Sejarah Teks Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah

Sejarah Teks Kisah Pelayaran Abdullah  ke Mekah (I)

Abdullah mencatat pengalamannya dalam perjalanannya ke Mekah

 

Abdullah meninggal

 

Kertas-kertas catatannya dibawa pulang ke Singapura oleh rekan sepelayaran Abdullah

 

Catatan Abdullah sampai ke tangan Keasberry

 

Keasberry menerbitkan catatan Abdullah tersebut pada majalah Cermin Mata (1858-1859)

 

Klinkert memesan salinan manuskripnya dari Keasberry       (sebelum  10 Juli 1865)

 

Manuskrip salinan Klinkert 63 tersebut  tersimpan di Perpustakaan Univ. Leiden)

 

Manuskrip KL. 63 dijadikan sebagai sumber terjemahan ke dalam bahasa Belanda (1987)

 

Klinkert menawarkan Bijdragen  untuk menerbitkan terjemahan kisah pelayaran

 

Klinkert menawarkan Bijdragen  untuk menolak menerbitkan terjemahan kisah pelayaran ini karena pernah diterbitkan dua kali.

 

Klinkert menerbitkan edisi teks berdasarkan edisi Cermin Mata pada 1889.

Sejarah Teks Kisah Pelayaran Abdullah  ke Mekah (II)

Abdullah mencatat pengalamannya dalam perjalanannya ke Mekah

 

Abdullah meninggal

 

Kertas-kertas catatannya dibawa pulang ke Singapura oleh rekan sepelayaran Abdullah

 

Catatan Abdullah sampai ke tangan Keasberry

Von de Wall membuat salinan manuskripnya

 

Salinan manuskrip (W.215) koleksi Von de Wall  tersebut tersimpan di Jakarta

Manuskrip W215 inilah yang dijadikan teks dasar penelitian Sweeney karena paling dekat dengan teks asli.

Manuskrip W.215 koleksi Von de Wall ini kemungkinan disalin dari sumber yang sama dengan teks Klinkert di Singapura karena Von de Wall juga mengenal Keasberry (van der Putten 2001:53).

Voorhoeve, seorang sarjana yang jujur berusaha berusaha mengembalikan teks pada bentuknya yang asli. Ia berhasrat membersihkan teks dari campur tangan penyunting yang memiliki kepentingan sendiri.

Manuskrip W215 yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia diberi deskripsi singkat oleh van Ronkel (1909:463). Informasi yang terperinci juga terdapat dalam deskripsi Bapak Haji Sanwani, berikut.

W215

Pelayaran Abdullah ke Mekah

Bahasa                                  : Melayu

Aksara                                  : Arab

Bentuk                                  :prosa

Judul dalam teks                  :—

Judul luar teks                     : Pelayaran Abdullah Munsyi dari Singapura ke Mekah

Ukuran sampul                    : 18,5 x 15 cm

Ukuran halaman                 : 18,5 x 15 cm

Ukuran blok teks                 : 14,5 x 12,5 cm

Jml. Baris/ hlm.                    : 15

Jilid                                       : 1 dari 1

Hlm. yang ditulis                  : 24

Hlm. kosong                         : 6 lembar (di ujung)

Hlm. bergambar                  : —

Penj. Penomoran                 : Penomoran naskah tambahan orang lain, dengan pensil, angka arab 1-24.

Jenis bahan                          : Kertas Eropa

Cap kertas                            :?

Keadaan fisik                       : agak lapuk, kertas sudah berwarna coklat, tulisan masih cukup jelas terbaca, ditulis dengan tinta hitam, jilidan baik, bersampul kertas marmer berwarna coklat.

 

 

Di dalam penelitian, Sweeney membuat beberapa perbandingan teks :

  1. Perbandingan Ms. Jakarta W215 : Cap Batu Majalah Cermin Mata : MS. Klinkert 63
  2. Perbandingan untuk mencari sumber edisi Klinkert 1889 dan Kassim.

ü  Cap Batu Majalah Cermin Mata : MS. Klinkert 63

Tujuan perbandingan teks tersebut digunakan untuk mencari sumber edisi Klinkert 1889 dan Kassim. Perbandingan itu digunakan untuk menyimak bagaimana Klinkert dan Kassim menyediakan edisinya. Sumber edisi cap batu Klinkert (1889) ialah versi cap batu dalam majalah Cermin Mata dan manuskrip yang dimilikina (Kl.63).

 

 

 

  1.  Perbandingan pada bagian judul dan penutup.

ü  MS. Jakarta W215 : Cap Batu Majalah Cermin Mata : MS. Klinkert 63 : Cap Batu Klinkert 1889

Perbandingan dalam hal judul :

Teks

Judul
MS. Jakarta W215 Pelayaran Abdullah Munsyi dari Singapura ke Mekah
Cap Batu Majalah Cermin Mata Kisah Pelayaran Abdullah
MS. Klinkert 63 Kisah Pelayaran Abdullah dari Singapura sampai ke Mekah
Cap Batu Klinkert 1889 Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Judah

 

  1. Perbandingan untuk bahan dari luar manuskrip dan edisi Cermin Mata.

Perbandingan  ini bertujuan untuk memperlihatkan perubahan dan tambahan yang dilakukan oleh Klinkert dan Vorhoeve/ Kassim. Bahan ini tidak terdapat dalam teks manapun.

 

 

Pandangan Mengenai Kisah Pelayaran ke Mekah

Dalam kisah ini, Abdullah terlepas dari majikan Kristennya dalam hal menuliskan catatan perjalanannya. Akan tetapi, sesudah Abdullah meninggal teks-teks yang ia tulis jatuh ke tangan missionaris. Oleh karena itu, suara Abdullah tetap terkawal oleh kepentingan missionaris.

Abdullah tetap menjadi tokoh utama dalam kisah pelayaran ini. Tokoh yang lain, seperti  Wan Yusuf, rekan-rekannya, dan orang-orang yang ditemui tidak ia jelaskan. Dalam kisahnya ke Mekah perbedaan antara hal-hal yang disaksikan Abdullah dan cerita yang hanya didengarnya secara jelas diceritakan tanpa ada keragu-raguan. Dalam pemeriannya sebagai saksi mata Abdullah berusaha memberi penggambaran yang meyakinkan sampai pada perincian yang sekecil-kecilnya.

Menurut Sweeney, dari segi seni sastra, bagian yang paling menarik adalah penggambaran Abdullah terhadap badai yang melanda ketika ia menyeberang ke laut. Hal yang berbeda dan cukup menarik  dalam kisah ini adalah pengandaian Abdullah mengenai khalayak Islam atau bersimpati pada nilai Islam.

Dalam teks dasar W215 terdapat catatan-catatan pendek seperti :

Maka sekalian perkara yang tersebut itu insya’Allah menjadi kebanyakan pahala sebab hendak menjalani jalan yang kebajikan adanya. Setelah itu maka sekaliannya membaca Fatihah sebab telah selamat masuk itu.”

Ketika Abdullah takut akan badai di laut, diucapkannya selawat akan Nabi Muhammad saw.:

Maka dalam hal yang demikian sebentar lagi Allahumma salli ‘ala Muhammad.

Catatan seperti ini sudah dihilangkan dari manuskrip edisi yang lain.

Di ujung kisah teerdapat syair yang diciptakan Abdullah ketika ia sampai ke Mekah. Syair tersebut berisi keharuan dan sengaja disingkirkan oleh Keasberry dan Klinkert.Keasberry berupaya mengikis apa saja yang berselera agama Islam dari tulisan Abdullah ini. Klinkert yang konon lebih liberal hanya menyatakan rasa kesalnya bahwa Abdullah tidak masuk agama Kristen serta menimbulkan segala tudingaan bahwa Abdullah meninggal karena diracuni oleh orang Arab yang fanatik.

Sweeney memilih MS W215 sebagai teks dasar karena dinilai paling dekat dengan teks asli dibandingkan teks yang lain. Sisi penghapusan nilai-nilai agama Islam tidak banyak ditemukan karena di dalam teksnya nilai-nilai itu tetap dipertahankan.

 

  1. Apakah yang disampaikan Abdullah itu orientalis?

ü  Catatan yang ditulis Abdullah mengenai kisah perjalanannya ke Mekah menurut saya tidak berbau orientalis. Alasannya pada teks tersebut, Abdullah sebagai orang Timur dan beragama Islam tidak memberikan gambaran-gambaran yang negative terhadap orang Timur. Justru dalam kisah pelayarannya ke Mekah ini Abdullah banyak mengagungkan nama Allah dan menjunjung nilai Islam. Berikut ini merupakan kutipan teks saat Abdullah membandingkan tabiat orang Hindu dan orang Islam.

Maka adalah yang pertama2 menjadikan ‘ajaib kepadaku sebab melihatkan ‘adat orang dalam negeri itu, tiadalah menjadi ‘aib bagi mereka itu segala perempuan2 beratus2  dan beribu2 semuanya bertelanjang, ya’ni dengan tiada memakai sekali2, kuntal-kantil sahaja susunya, baik yang muda yang tua; yaitu semuanya perempuan Hindu. Tetapi perempuan Islamnya bukannya demikian, bertutup kepala dan berbaju adanya.

Dari teks di atas dapat dimengerti bahwa Abdullah mengagungkan wanita muslimah yang menutup kepala dan tubuhnya. Selain itu, Abdulah tak henti-hentinya mengagungkan nama Allah. Penilaiannya terhadap budaya Timur memang ada yang negatif, tetapi itu dapat dinilai sebagai sebuah penilaian yang objektif.

Di akhir teks, Abdullah menuliskan sebuah syair yang menggambarkan kebahagiaan rohaninya masuk di negeri yang mulia. Ia menuliskan rasa syukurnya pada syair tersebut.  Oleh karena itu, dalam teks-teks yang lain (selain W215) , syair tersebut dihilangkan.Padahal, syair ini menjadi kunci untuk memahami struktur puisi Abdullah seluruhnya. Teks-teks yang bernilai Islam tersebut banyak direduksi oleh Keasberry dalam Cermin mata dan Klinkert pada edisinya yang diterbitkan 1889.

Berdasarkan teks kisah pelayaran Abdullah ke Mekah sulit dikatakan Abdullah seorang orientalis karena tidak ada pengagungan terhadap Barat dan pemberian citra buruk bagi Timur baik secara implisit maupun eksplisit.

Para missionarislah yang berusaha mengolah kisah pelayaran Abdullah ke Mekah tersebut agar terlihat kalau orang Timur itu jahat dan tidak beradab. Klinkert pun menggunakan retorikanya pada peristiwa meninggalnya Abdullah di tanah suci. Klinkert member epitaf Kristen terhadap orang Islam yang meninggal di tanah suci Mekah. Kata Klinkert,

Memang mengecewakan bahwa seorang Melayu yang begitu jujur dan berpendidikan, biarpun berhubungan akrab dengan berpuluh-puluh misionaris Inggris, tidak pernah datang pada agama Kristen (maksudnya “memeluk agama Kristen”) dan mungkin dibunuh oleh Islam.

Berdasarkan penjelasan di atas, tulisan Abdullah sebenarnya tidak bersifat orientalis karena proses penulisannya pun terlepas dari pemantauan majikan Kristennya. Meskipun demikian, teks-teks yang diterbitkan dikawal oleh kepentingan missionaris dan banyak disensor oleh tangan orang Barat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Bagaimana memaknai kritik-kritik Abdullah?

Dalam kisah pelayarannya ke Mekah, Abdullah tidak mempunyai “agenda” untuk mengkritik segala-galanya. Maksudnya, Abdullah tetap mengkritik, tetapi tak sekeras pada tulisannya yang lain. Kritik dalam teks ini tidak terlalu banyak, ada beberapa yang saya temukan,

ü  Abdullah menceritakan jumlah masjid di Alfiah yang berjumlah sepuluh. Namun yang aktif digunakan untuk berjamaah hanya tiga.

Maka adalah masjid dalam negeri Alfiah itu sahaja sepuluh. Maka tiga buah masjid sahaja yang berjamaah.

ü  Abdullah mengkritik peminta-minta di negeri Alfiah

Akan tetapi dalam negeri Alfiah itu adalah satu adat yang terlalu jahat lagi tiada bermalu, yaitu hampir2 separuh orang dalam negeri itu yang meminta sedekah daripada laki-laki dan perempuannya. Maka barang di mana kita berjalan diikutnya, dipintanya dengan kekerasannya, sedikit diberi tiada cukup, hendakkan banyak. Maka istimewa pula budak2nya beratus2 sekaliannya pandai meminta, barang apa2 yang kita makan dipintanya dn yang dipegang dipintanya.

ü  Abdullah mengkritik orang-orang yang berselisih

Maka pada masa ini adalah orang2 dalam negeri itu berselisih; maka sebab itulah dua2 masjid  itumembaca khutbah, tetapi kemudian berapit dzohor, baharu dua bulan lamanya. Maka dahulu daripada itu satu Jumat di sini, satu Jumat di sana, sebab masjid itu berdekat-dekat sangat adanya.

ü  Abdullah mengkritik adat negeri Kalikut yang tidak memiliki jamban

Maka adalah suatu ‘adat dalam negeri itu terlalu aib, yaitu tiada berjamban; semuanya orang pergi buang air ke tepi laut berbanjar2 duduk dengan tiada bermalu seorang dengan seorang.

 

Kritik-kritik yang dilontarkan Abdullah dalam kisah pelayarannya ke Mekah ini saya pikir cukup objektif dan tidak menyudutkan adat orang Timur. Jadi, dalam memaknai kritik-kritik Abdullah tidak perlu dianggap sebagai pelecehan terhadap orang Timur, tetapi yang perlu dilakukan adalah memaknai kritiknya sebagai kritik yang membangun. Kritik Abdullah juga tidak terlalu banyak dalam teks ini, secara imbang Abdullah juga membeikan pengagungan pada pembangunan masjid yang megah dan mengagungkan nilai-nilai Islam.

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s