Aksi bilik Oranye II

Assalam. Di bulan yang mulia ini mari kita memberi manfaat untuk orang lain. Setelah beberapa bulan yang lalu teman-teman telah membantu saudara kita yang membutuhkan kursi roda, kali ini seorang anak kecil yang baru saja menjadi yatim karena ayahnya kecelakaan terbaring sakit tumor otak, saya mau mengajak teman-teman untuk membantunya baik berupa doa maupun bantuan lainnya. Ibunya sekarang sudah tidak bekerja. Yang jelas, dia butuh perhatian dari orang lain, meskipun teman-teman mungkin tidak mengenalnya, tetapi saya yakin kebaikan teman-teman akan terus melekat di hatinya, terlebih jika semuanya hanya untuk Allah swt…jika berkenan membantu bisa sms saya atau hubungi saya lewat facebook atau twitter…

Wassalam

Mari saling mengasihi kawan

terima kasihhh

Teman-teman…

kursi roda telah terbeli

kemarin juga telah saya kirim

ini sms ucapan terima kasih dari teman saya (dgn sdikit perubahan)

Begitu besar pengorbanan teman-teman.

saya sangat bersyukur.

jujur kursi roda saya yang dulu telah rusak. 

tangan sering berdarah kegores besi karatan.

pemberian teman2 sangat berguna bagi saya untuk berjalan

sebagai pengganti kaki…

sekali lagi terima kasih buat teman-teman, tapi maaf foto kursi rodanya nggak ada,,soalnya hp saya nggak memungkinkan untuk memfoto (karena mmg gk ada kameranya hehe)

tapi semoga tak mengurangi hikmatnya ibadah teman-teman,,,,

 

Ceretera Haji Sabar Ali

Teks Ceretera Haji Sabar Ali terdapat dalam dua edisi:

  1. Edisi Jawi (British Library, Perpusnas RI, Universitas Leiden)
  2. Edisi Rumi: (tidak ada yang lengkap, bagian-bagiannya dimiliki oleh National Library of  Singapore, Perpusnas RI, School of  Oriental and African Studies)

Karya ini kurang terkenal, kajiannya hanya pernah dilakukan oleh Skinner yang menerbitkan teks dan terjemahan edisi Jawi. Skinner tidak mengenal versi Rumi. Buckley menyatakan bahwa yang mengarang ceretera ini adalah Munsyi Abdullah, Skinner juga menyetujuinya.

Deskripsi Edisi Jawi dan Rumi:

  1. Edisi Jawi

(30 halaman (1 gambar, hl. Judul, 1-35 ), tanpa penomoran, cap batu jawi, halaman berukuran 20 x 13 cm, dalam bingkai 12,5 x 8 cm dengan 9 baris per halaman, penerbit Bukit Zion, tanggal 12 April 1851)

  1. Edisi Rumi

Majalah : Taman Pungutan bagie Kanak-Kanak

Penerbit : B.P. Keasberry

Pencetak : Mission Press, Singapura

Cetak huruf rumi, halaman berukuran 17 x 10 cm (bervariasi antara jilid); teks tanpa bingkai, 10,5 x 6,5 cm, dengan 26 baris per halaman.

Teksnya berjudul “Deri Hal Haji Saburali”, diterbitkan dalam Jilid IV, no. 39 (tertera pada halaman 48).

 

Versi dalam Media

Ceretera Haji Sabar Ali  yang selanjutnya disebut CHSA merupakan cerita yang aneh. Kisahnya didasarkan pada kasus pembunuhan yang baru diadili di Singapura. Versi kisah CHSA, baik dalam edisi Jawi maupun Rumi tidak menyimpang jauh dari versi yang terlihat oleh media.

Persoalan pengarang dan khalayak dipermasalahkan

Terdapat penyimpangan dalam edisi rumi CHSA karena tujuan penulisan CHSA untuk khalayak kanak-kanak tetapi yang tersirat dari teksnya teks ini juga untuk orang dewasa.

 

CHSA Edisi Jawi

Terdapat penyimpangan dalam edisi Jawi CHSA, kesan awal ceritera ini adalah sebuah ceritera yang hebat, ceritera seram. Keasberry memanfaatkan sensasi pengadilan dan penggantungan, dengan kepentingannya sebagai missionaries.

Narator yang bernada Islam ditandai denga Allahu’alam dan sanat sampai pada halaman 15 nyaring terdengar tetapi setelah itu suara narrator mulai menghilang. Suara didaktis yang penuh keyakinan dan objek yang dituju adalah orang Keling, Hindu, dan Islam yang telah menjadi “kamu”.  Suara naratornya berubah menjadi “kami” , yaitu orang selain Keling, Hindu, dan Islam.

Padahal, Abdullah tidak pernah menjarakkan dirinya dengan pembaca dengan “kami” dan “kamu”, karena Abdullah sering mengasumsikan bahwa pembacanya memiliki nilai yang sama dengan dirinya, yang dikritik adalah “mereka”.

Pada halaman 15 terdapat pembelaan terhadap peradilan Inggris, akan tetapi perlakuan pemerintah Inggris pada jenazah tidak dibahas.  Hukum Inggris dibela karena didasarkan pada hokum Allah yang terdapat dalam kitab Injil. Pengarang mengembangkan khotbah dengan implikasi ayat Injil. Terdapat keanehan-keanehan dari logika pengarang yang berubah-ubah.

Sentiment yang berupa khotbah kristiani sulit dicocokkan dengan pendapat Buckley kalau CHSA ini dikarang oleh Abdullah. Ia tidak menggunakan prinsip teks yang otonom tetapi malah beralih menggunakan pendekatan sejarah. Hasilnya tidak meyakinkan.

Abdullah tidak pernah melihat masalah apa pun dalam membantu missionaries menerjemahkan kitab Kristen ke bahasa Melayu, tetapi ia tetap bukan seorang penginjil yang tersirat pada narator CHSA.

Hanya kaligrafi saja yang merupakan alasan paling masuk akal, Skinner tidak mampu menjelaskan hubungan antara isi teks dengan Abdullah .  Keasberry lah yang sepertinya mengarang CHSA meski tidak sendirian.

Dalam CHSA yang ditonjolkan sebagai pengarang dan penginjil adalah Keasberry. Akan tetapi, kiat retorikanya dan keterampilan berbahasanya khas Abdullah. Menurut Skinner, Abdullah berhasil menciptakan satu gaya yang sesuai untuk Keasberry. Abdullah dalam cerita ini adalah ghost writer.

Kemungkinan yang lain, ceritera ini dikarang oleh Keasberry yang mampu menempati kekhasan Abdullah dalam berbahasa. Hal ini masuk akal, karena Keasberry belajar bahasa Melayu dari Abdullah.

 

 

 

 

CHSA Edisi Rumi

CHSA edisi rumi ditujukan untuk khalayak kanak-kanak. Tulisan ini dimuat dalam majalah Keasberry Taman Pengutahauan Bagie Kanak Kanak sehingga jelas mengandung muatan kristiani.

Frasa ‘Allahu’alam’ diganti menjadi Allah yang tahu, kata sanat dihilangkan, nama-nama pelaku disesuaikan dengan versi Inggris:

Sabar Ali         : Saburali

Oli sab             : Olisha

Cinna mastan  : Chinna Marican

Kesempatan dalam kesempitan

Keasberry memanfaatkan CHSA karena menyangkut kisah seorang haji yang jahat. Hal itu disebakan oleh tipe karangan majalah Keasberry yang kalau tidak orang Islam masuk Kristen atau orang Islam yang jahat.

Teks dasar CHSA

Edisi cap batu jawi dari 1851 yang digunakan dalam penelitian Sweeney.

Sejarah Teks Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah

Sejarah Teks Kisah Pelayaran Abdullah  ke Mekah (I)

Abdullah mencatat pengalamannya dalam perjalanannya ke Mekah

 

Abdullah meninggal

 

Kertas-kertas catatannya dibawa pulang ke Singapura oleh rekan sepelayaran Abdullah

 

Catatan Abdullah sampai ke tangan Keasberry

 

Keasberry menerbitkan catatan Abdullah tersebut pada majalah Cermin Mata (1858-1859)

 

Klinkert memesan salinan manuskripnya dari Keasberry       (sebelum  10 Juli 1865)

 

Manuskrip salinan Klinkert 63 tersebut  tersimpan di Perpustakaan Univ. Leiden)

 

Manuskrip KL. 63 dijadikan sebagai sumber terjemahan ke dalam bahasa Belanda (1987)

 

Klinkert menawarkan Bijdragen  untuk menerbitkan terjemahan kisah pelayaran

 

Klinkert menawarkan Bijdragen  untuk menolak menerbitkan terjemahan kisah pelayaran ini karena pernah diterbitkan dua kali.

 

Klinkert menerbitkan edisi teks berdasarkan edisi Cermin Mata pada 1889.

Sejarah Teks Kisah Pelayaran Abdullah  ke Mekah (II)

Abdullah mencatat pengalamannya dalam perjalanannya ke Mekah

 

Abdullah meninggal

 

Kertas-kertas catatannya dibawa pulang ke Singapura oleh rekan sepelayaran Abdullah

 

Catatan Abdullah sampai ke tangan Keasberry

Von de Wall membuat salinan manuskripnya

 

Salinan manuskrip (W.215) koleksi Von de Wall  tersebut tersimpan di Jakarta

Manuskrip W215 inilah yang dijadikan teks dasar penelitian Sweeney karena paling dekat dengan teks asli.

Manuskrip W.215 koleksi Von de Wall ini kemungkinan disalin dari sumber yang sama dengan teks Klinkert di Singapura karena Von de Wall juga mengenal Keasberry (van der Putten 2001:53).

Voorhoeve, seorang sarjana yang jujur berusaha berusaha mengembalikan teks pada bentuknya yang asli. Ia berhasrat membersihkan teks dari campur tangan penyunting yang memiliki kepentingan sendiri.

Manuskrip W215 yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia diberi deskripsi singkat oleh van Ronkel (1909:463). Informasi yang terperinci juga terdapat dalam deskripsi Bapak Haji Sanwani, berikut.

W215

Pelayaran Abdullah ke Mekah

Bahasa                                  : Melayu

Aksara                                  : Arab

Bentuk                                  :prosa

Judul dalam teks                  :—

Judul luar teks                     : Pelayaran Abdullah Munsyi dari Singapura ke Mekah

Ukuran sampul                    : 18,5 x 15 cm

Ukuran halaman                 : 18,5 x 15 cm

Ukuran blok teks                 : 14,5 x 12,5 cm

Jml. Baris/ hlm.                    : 15

Jilid                                       : 1 dari 1

Hlm. yang ditulis                  : 24

Hlm. kosong                         : 6 lembar (di ujung)

Hlm. bergambar                  : —

Penj. Penomoran                 : Penomoran naskah tambahan orang lain, dengan pensil, angka arab 1-24.

Jenis bahan                          : Kertas Eropa

Cap kertas                           😕

Keadaan fisik                       : agak lapuk, kertas sudah berwarna coklat, tulisan masih cukup jelas terbaca, ditulis dengan tinta hitam, jilidan baik, bersampul kertas marmer berwarna coklat.

 

 

Di dalam penelitian, Sweeney membuat beberapa perbandingan teks :

  1. Perbandingan Ms. Jakarta W215 : Cap Batu Majalah Cermin Mata : MS. Klinkert 63
  2. Perbandingan untuk mencari sumber edisi Klinkert 1889 dan Kassim.

ü  Cap Batu Majalah Cermin Mata : MS. Klinkert 63

Tujuan perbandingan teks tersebut digunakan untuk mencari sumber edisi Klinkert 1889 dan Kassim. Perbandingan itu digunakan untuk menyimak bagaimana Klinkert dan Kassim menyediakan edisinya. Sumber edisi cap batu Klinkert (1889) ialah versi cap batu dalam majalah Cermin Mata dan manuskrip yang dimilikina (Kl.63).

 

 

 

  1.  Perbandingan pada bagian judul dan penutup.

ü  MS. Jakarta W215 : Cap Batu Majalah Cermin Mata : MS. Klinkert 63 : Cap Batu Klinkert 1889

Perbandingan dalam hal judul :

Teks

Judul
MS. Jakarta W215 Pelayaran Abdullah Munsyi dari Singapura ke Mekah
Cap Batu Majalah Cermin Mata Kisah Pelayaran Abdullah
MS. Klinkert 63 Kisah Pelayaran Abdullah dari Singapura sampai ke Mekah
Cap Batu Klinkert 1889 Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Judah

 

  1. Perbandingan untuk bahan dari luar manuskrip dan edisi Cermin Mata.

Perbandingan  ini bertujuan untuk memperlihatkan perubahan dan tambahan yang dilakukan oleh Klinkert dan Vorhoeve/ Kassim. Bahan ini tidak terdapat dalam teks manapun.

 

 

Pandangan Mengenai Kisah Pelayaran ke Mekah

Dalam kisah ini, Abdullah terlepas dari majikan Kristennya dalam hal menuliskan catatan perjalanannya. Akan tetapi, sesudah Abdullah meninggal teks-teks yang ia tulis jatuh ke tangan missionaris. Oleh karena itu, suara Abdullah tetap terkawal oleh kepentingan missionaris.

Abdullah tetap menjadi tokoh utama dalam kisah pelayaran ini. Tokoh yang lain, seperti  Wan Yusuf, rekan-rekannya, dan orang-orang yang ditemui tidak ia jelaskan. Dalam kisahnya ke Mekah perbedaan antara hal-hal yang disaksikan Abdullah dan cerita yang hanya didengarnya secara jelas diceritakan tanpa ada keragu-raguan. Dalam pemeriannya sebagai saksi mata Abdullah berusaha memberi penggambaran yang meyakinkan sampai pada perincian yang sekecil-kecilnya.

Menurut Sweeney, dari segi seni sastra, bagian yang paling menarik adalah penggambaran Abdullah terhadap badai yang melanda ketika ia menyeberang ke laut. Hal yang berbeda dan cukup menarik  dalam kisah ini adalah pengandaian Abdullah mengenai khalayak Islam atau bersimpati pada nilai Islam.

Dalam teks dasar W215 terdapat catatan-catatan pendek seperti :

Maka sekalian perkara yang tersebut itu insya’Allah menjadi kebanyakan pahala sebab hendak menjalani jalan yang kebajikan adanya. Setelah itu maka sekaliannya membaca Fatihah sebab telah selamat masuk itu.”

Ketika Abdullah takut akan badai di laut, diucapkannya selawat akan Nabi Muhammad saw.:

Maka dalam hal yang demikian sebentar lagi Allahumma salli ‘ala Muhammad.

Catatan seperti ini sudah dihilangkan dari manuskrip edisi yang lain.

Di ujung kisah teerdapat syair yang diciptakan Abdullah ketika ia sampai ke Mekah. Syair tersebut berisi keharuan dan sengaja disingkirkan oleh Keasberry dan Klinkert.Keasberry berupaya mengikis apa saja yang berselera agama Islam dari tulisan Abdullah ini. Klinkert yang konon lebih liberal hanya menyatakan rasa kesalnya bahwa Abdullah tidak masuk agama Kristen serta menimbulkan segala tudingaan bahwa Abdullah meninggal karena diracuni oleh orang Arab yang fanatik.

Sweeney memilih MS W215 sebagai teks dasar karena dinilai paling dekat dengan teks asli dibandingkan teks yang lain. Sisi penghapusan nilai-nilai agama Islam tidak banyak ditemukan karena di dalam teksnya nilai-nilai itu tetap dipertahankan.

 

  1. Apakah yang disampaikan Abdullah itu orientalis?

ü  Catatan yang ditulis Abdullah mengenai kisah perjalanannya ke Mekah menurut saya tidak berbau orientalis. Alasannya pada teks tersebut, Abdullah sebagai orang Timur dan beragama Islam tidak memberikan gambaran-gambaran yang negative terhadap orang Timur. Justru dalam kisah pelayarannya ke Mekah ini Abdullah banyak mengagungkan nama Allah dan menjunjung nilai Islam. Berikut ini merupakan kutipan teks saat Abdullah membandingkan tabiat orang Hindu dan orang Islam.

Maka adalah yang pertama2 menjadikan ‘ajaib kepadaku sebab melihatkan ‘adat orang dalam negeri itu, tiadalah menjadi ‘aib bagi mereka itu segala perempuan2 beratus2  dan beribu2 semuanya bertelanjang, ya’ni dengan tiada memakai sekali2, kuntal-kantil sahaja susunya, baik yang muda yang tua; yaitu semuanya perempuan Hindu. Tetapi perempuan Islamnya bukannya demikian, bertutup kepala dan berbaju adanya.

Dari teks di atas dapat dimengerti bahwa Abdullah mengagungkan wanita muslimah yang menutup kepala dan tubuhnya. Selain itu, Abdulah tak henti-hentinya mengagungkan nama Allah. Penilaiannya terhadap budaya Timur memang ada yang negatif, tetapi itu dapat dinilai sebagai sebuah penilaian yang objektif.

Di akhir teks, Abdullah menuliskan sebuah syair yang menggambarkan kebahagiaan rohaninya masuk di negeri yang mulia. Ia menuliskan rasa syukurnya pada syair tersebut.  Oleh karena itu, dalam teks-teks yang lain (selain W215) , syair tersebut dihilangkan.Padahal, syair ini menjadi kunci untuk memahami struktur puisi Abdullah seluruhnya. Teks-teks yang bernilai Islam tersebut banyak direduksi oleh Keasberry dalam Cermin mata dan Klinkert pada edisinya yang diterbitkan 1889.

Berdasarkan teks kisah pelayaran Abdullah ke Mekah sulit dikatakan Abdullah seorang orientalis karena tidak ada pengagungan terhadap Barat dan pemberian citra buruk bagi Timur baik secara implisit maupun eksplisit.

Para missionarislah yang berusaha mengolah kisah pelayaran Abdullah ke Mekah tersebut agar terlihat kalau orang Timur itu jahat dan tidak beradab. Klinkert pun menggunakan retorikanya pada peristiwa meninggalnya Abdullah di tanah suci. Klinkert member epitaf Kristen terhadap orang Islam yang meninggal di tanah suci Mekah. Kata Klinkert,

Memang mengecewakan bahwa seorang Melayu yang begitu jujur dan berpendidikan, biarpun berhubungan akrab dengan berpuluh-puluh misionaris Inggris, tidak pernah datang pada agama Kristen (maksudnya “memeluk agama Kristen”) dan mungkin dibunuh oleh Islam.

Berdasarkan penjelasan di atas, tulisan Abdullah sebenarnya tidak bersifat orientalis karena proses penulisannya pun terlepas dari pemantauan majikan Kristennya. Meskipun demikian, teks-teks yang diterbitkan dikawal oleh kepentingan missionaris dan banyak disensor oleh tangan orang Barat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Bagaimana memaknai kritik-kritik Abdullah?

Dalam kisah pelayarannya ke Mekah, Abdullah tidak mempunyai “agenda” untuk mengkritik segala-galanya. Maksudnya, Abdullah tetap mengkritik, tetapi tak sekeras pada tulisannya yang lain. Kritik dalam teks ini tidak terlalu banyak, ada beberapa yang saya temukan,

ü  Abdullah menceritakan jumlah masjid di Alfiah yang berjumlah sepuluh. Namun yang aktif digunakan untuk berjamaah hanya tiga.

Maka adalah masjid dalam negeri Alfiah itu sahaja sepuluh. Maka tiga buah masjid sahaja yang berjamaah.

ü  Abdullah mengkritik peminta-minta di negeri Alfiah

Akan tetapi dalam negeri Alfiah itu adalah satu adat yang terlalu jahat lagi tiada bermalu, yaitu hampir2 separuh orang dalam negeri itu yang meminta sedekah daripada laki-laki dan perempuannya. Maka barang di mana kita berjalan diikutnya, dipintanya dengan kekerasannya, sedikit diberi tiada cukup, hendakkan banyak. Maka istimewa pula budak2nya beratus2 sekaliannya pandai meminta, barang apa2 yang kita makan dipintanya dn yang dipegang dipintanya.

ü  Abdullah mengkritik orang-orang yang berselisih

Maka pada masa ini adalah orang2 dalam negeri itu berselisih; maka sebab itulah dua2 masjid  itumembaca khutbah, tetapi kemudian berapit dzohor, baharu dua bulan lamanya. Maka dahulu daripada itu satu Jumat di sini, satu Jumat di sana, sebab masjid itu berdekat-dekat sangat adanya.

ü  Abdullah mengkritik adat negeri Kalikut yang tidak memiliki jamban

Maka adalah suatu ‘adat dalam negeri itu terlalu aib, yaitu tiada berjamban; semuanya orang pergi buang air ke tepi laut berbanjar2 duduk dengan tiada bermalu seorang dengan seorang.

 

Kritik-kritik yang dilontarkan Abdullah dalam kisah pelayarannya ke Mekah ini saya pikir cukup objektif dan tidak menyudutkan adat orang Timur. Jadi, dalam memaknai kritik-kritik Abdullah tidak perlu dianggap sebagai pelecehan terhadap orang Timur, tetapi yang perlu dilakukan adalah memaknai kritiknya sebagai kritik yang membangun. Kritik Abdullah juga tidak terlalu banyak dalam teks ini, secara imbang Abdullah juga membeikan pengagungan pada pembangunan masjid yang megah dan mengagungkan nilai-nilai Islam.

 

aksi Bilik Oranye I

#Kursi roda untuk sahabat…#

Assalamualaikum, Wr. Wb

Teman,,,

Seorang sahabat saya sedang membutuhkan kursi roda,, ,

Bagi teman-teman yang ingin membantu dia  dapat melakukan ini…

  1. Mendoakan dan mensupport bilik oranye agar mampu mewujudkan keinginan sahabat saya mendapat kursi roda baru.
  2. Bantuan finansial dapat langsung bertemu dengan Marfidah atau dikirim melalui rekening bank. Selebihnya bisa menghubungi nomor saya (088216019877).
  3. Menyebarkan dan menawarkan pada teman/ kelompok sosialnya mengenai aksi ini.

Keinginan sahabat saya akan cepat terwujud atas doa yang teman-teman berikan. Hidup ini hanya sekali Teman, alangkah indahnya jika ada kontribusi dari kita untuk orang lain.

Jika diantara teman-teman juga ingin memberikan bantuan pada teman atau saudara yang ada di sekelilingnya insyaAllah kita akan bantu bersama-sama pada aksi-aksi selanjutnya.

Terima kasih semuanya….Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.

ini ceritaku

ini hanya secuil tulisan yang dapat kutorehkan dalam sehalaman blog ini..
secuil tentangku…
namaku Marfidah,nama ini diberikan oleh bapak setelah hampir satu minggu ia memikirkan nama untukku.

Ternyata kata temanku Marfidah itu artinya menurut bahasa Arab itu fanatik, suka menolong, idealis, air terjun dll.

berdasarkan definisi itu jelas lah aku memilih definisi yang terakhir air terjun???

taw kenapa?

cari sendiri ya ..(aku sendiri juga nggak tau)
Marfidah …nama yang pendek bahkan menurut mbah dukun yang membantu ibuku melahirkan juga terlalu pendek (kata bapak, sebenarnya saat itu sudah mau dibawa ke rumah sakit, tapi keburu pembukaan terakhir dan aku sudah tak sabar ingin mellihat dunia) jadi lah aku terlahir ke dunia dibantu mbah Sarinem,,,meskipun sudah disuruh untuk menambah jumlah huruf dalam namaku bapak tetap saja tak mau.
hingga ketika aku SD, aku tanya apa harapan bapak atas nama itu, dan luar biasa sekali meskipun aneh dan entah diambil dari bahasa apa, kata Bapak, namaku berarti kedudukan hati yang terhormat, dan Bapak juga selalu mengajarkanku untuk berlaku baik dengan hati.

Cerita hidupku sampai usiaku yang sekarang kukira cukup panjang. Aku tumbuh di sebuah desa yang cukup jauh dari keramaian, bahkan dulu kalau ada motor lewat aja aku dan teman-temanku yang menjumputi melinjo tetangga atau pada saat mencari bekicot langsung saja tiarap bak orang militer menghadapi musuh. aku masih ingat jelas saat itu, kami selalu menjerit “culik-culik” ketika ada motor lewat maklumlah saat itu belum banyak motor yang berkeliaran seperti saat ini.

Pertama kali, cerita waktu aku TK, aku diidaftarkan TK dua kali, untuk yang pertama aku gagal bersekolah karena aku takut dengan teman-temanku, aku sering dijaili dan diolok-olok karena menggunakan tas yang jelek (tas dengan lebel Toko Mas milik ibuku yang sering dibawa ke pasar), aku nggak tahan dengan ejekan teman-temanku dan aku akhirnya ngambek nggak mau berangkat sekolah.
Hingga TK yang kedua, aku sudah ada perubahan, sedikit nyombong nih, waktu TK yang kedua ini aku termasuk siswa yang cepat paham maklum lah usia juga berpengaruh, tapi menyenangkannya, guru Tk ku masih mengingatku sampai sekarang dan selalu menyatakan bahwa dulu ketika TK aku adalah siswi yang pandai (sumpah, aku nggak bermaksud nyombong :))
Kemudian aku sekolah di SD Mudal, mau tau jumlah temanku di SD itu berapa??? hayooow coba tebak!

lebih sedikit dari jumlah siswa di tetralogi “Laskar Pelangi” aku punya enam orang teman jadi dalam satu kelas ada 7 siswa, bismillah semoga aku masih ingat nama-nama mereka, Eko Widyanto, Riyanto, Suparman, Sudarto, Supriyanto, (cow),,,Ria Ristiani, dan aku (cew) jadi ada lima cowok plus dua cewek..
seperti itulah keadaannya, SD dengan 6 teman,,,dan setelah kami lulus SD ku pun terpaksa harus dibubarkan dan digabung dengan SD yang lain..dan sekarang telah menjadi ladang jagung yang subur.
Ria, adalah satu-satunya teman cew. ku, ibunya meninggal saat kami kelas lima. kami selalu mencari sejumpit uang dengan berbagai cara, kami mencari melinjo, bekicot, dan membuat tas dari benang.
bahkan Ria sering menjual daun pisang, kalau aku lebih sering mencari rumput. Jualan melinjo kami sering digunakan untuk membeli LKS, terkadang untuk membeli burjo di Pasar Mudal…ahhh jadi kangen Ria…
Prestasiku di SD cukup lumayan, aku pernah memenangkan kejuaraan matematika (ituuuu dulu sekali) aku sering ikut lomba tahfidz dan mendapat juara, bahkan karena itu saat mau ke propinsi semua guru dan orang tuaku ‘nyarter bis’ untuk mendukungku…ahhh itu indah sekali
Perihal akademik, aku cukup lumayan, ya dari 6 siswa itu aku selalu berusaha untuk juara 1, agar
aku bisa dapet beasiswa dan benar saja, waktu itu aku dapat beasiswa dan tiap tiga bulan mengambil uang di kantor pos, mulai saat itu, sehabis shalat aku selalu berdoa agar aku mendapat beasiswa

Fase kedua-ku, saat SMP, aku masuk pesantren, itu keputusan kuambil sendiri dan sebelumnya aku shalat istikharah dulu. Saat itu, aku tak tahu jawabannya aku harus SMP dimana, SMP sambil mondok atau hanya mondok,,,maka dari itu, aku menulis semua pilihanku itu di bawah bantal dan setelah kutimbang-timbang aku memilih sekolah sambil mondok di pesantren. Pilihanku di amini oleh orang tuaku juga sangat didukung oleh Pak Muhyidin adik dari RKH. Raden Ikhsan Asyhari Almaghfurlah…(mari kirim alfatihah untuk beliau)
Masa SMP kulalui bersamaan dengan mondok, awalnya sangat nggak betah, ya maklumlah anak bungsu. Tapi akhirnya aku sangat nyaman tinggal di pondok banyak hal yang kudapat saat aku mondok, makan mi di atas ‘tampah’ bareng-bareng sama mbak-mbak pondok, piket asah-asah, di jodo2in, nderes apalan, ujian, sorogan, dan pernah waktu shorof ada ujian hapalan dan tulis aku dapet sarimi dua bungkus, bungkusnya masih tak simpen sampai sekarang,.
Ngaji Imrithi dengan KH. Jironi adalah kisah indah yang mungkin tak akan terlupa, beli bakso di tukang bakso keliling dan terkadang pak Jir menambah porsiku, kata Beliau “kok le tuku mung semono?” begitu baiknya beliau padaku. Saat ngaji pun Beliau adalah satu-satunya guru yang menyemangati perihal sekolah, aku senang karena pengertiannya saat aku ujian. Mengaji bersama beliau tak hanya sebatas menghafal kaidah dan nadhom semata tetapi lebih pada belajar hidup.
Di SMP, aku hanya menonjol di beberapa mata pelajarn, teman-temanku kuakui sangat pandai dan terbukti sekarang teman-temanku itu bertengger di Universitas ternama dan jurusan yang bonafit,,, tapi karena kasihNya untukku aku mendapatkatkan peringkat yang baik saat ujian masuk SMP sehingga aku mendapatkan beasiswa dari (sebuah merk alat elektronik ternama) selama tiga tahun sekolah bersama seorang teman lain yang sekarang kuliah di fakultas Kedokteran Umum…ahh dia memang hebat,,, aku mengakuinya,,,kami berdua sering mengambil uang beasiswa bersama.

Fase ketkia SMA, aku memilih bersekolah di MAN 2 Wates, banyak yang menyuruhku untuk sekolah di tempay lain yang kata mereka lebih bagus, tapi entah mengapa kakiku terasa ringan saat memutuskan untuk bersekolah di MAN 2 Wates,,,
di MAN, aku sempat dipercaya menjadi ketua OSIS selama dua periode ,,,ah itu hanya kebetulan
tapi semua yang kutulis disini benar2 bukan untuk menyombongkan tapi untuk dokumentasiku agar aku bisa mengingatnya kelak dan untuk kuceritakan pada anak-anakku…ahhh semoga mereka menorehkan tinta yang lebih indah daripada yang kutoreh.
Aku masuk kelas IPA dan ikut keterampilan komputer, ada PKL juga lho…jadinya kayak anak SMK..waktu SMA aku punya teman dan guru-guru yang baik, aku sering ikut pelatihan dan lomba keagamaan,,,dan saat itu timbul masalah karena jarak pondok dan MAN yang cukup jauh, dengan berat hati aku pindah ke pesantren yang lain. Di pesantren yang baru aku diikutkan lomba pidato bahasa Inggris, dan ketika ditetapkan jadi juara, aku di dapuk pesantren untuk mengajar bahasa Inggris di madrasah diniyah…ahhh aku jadi ingat sering memberikan tugas yang aneh-anaeh untuk teman-temanku…
Selanjutnya aku menarik ulur guru BK ku agar memberikan aku jalan untuk mendaftar di UGM,,, ya program PBUTM akhirnya membantuku masuk UGM, masuk jurusan Sastra Indonesia,,,entahlah kenapa aku bisa memilih jurusan itu, sebenarnya orang tuaku berharap aku memilih pertanian, kakakku berharap aku mengambil Gizi,,tapi waktu itu aku dikuatkan untuk memilih sastra Indonesia,,,mungkin memang jalanNya,,, dan saat ini aku sedang merenda kehidupan bersama sastra Indonesia,,,

tentang ind*m*e,,,aku gk punya cerita ,,,ini ceritaku..apa ceritamu???