kajianku

HIKAYAT HANG TUAH : KAJIAN STRUKTUR DAN FUNGSI

 BERDASARKAN DISERTASI IBU SULASTIN SUTRISNO

A.Pendahuluan

Hikayat Hang Tuah (HHT) adalah karya sastra yang sangat panjang , sehingga memberi  banyak kemungkinan kepada para peneliti untuk meninjau secara mendalam bagian yang menarik perhatian masing-masing dari sudut pandang yang berbeda.

Kajian struktur dan fungsi yang dilakukan Ibu Sulastin dalam disertasinya  memiliki maksud dan tujuan. Analisa struktur digunakan untuk menerangkan hubungan bagian yang satu terhadap yang lain dan terhadap keseluruhannya dan sebaliknya akan mengungkapkan segala gejala yang menurut pandangan tertentu tidak masuk akal. Tidak dapat satu babak atau satu cerita ditafsirkan secara terpisah dari bagian-bagian yang lain dalam suatu kerangka keseluruhan. Demikian halnya satu teks tidak dapat dipisahkan dengan teks yang lain.

Di dalam kajian struktur dan fungsi HHT disertasi Ibu Sulastin, disusun struktur menurut bagian-bagian yang membangun sendi dasar bangunan HHT. Sendi dasar tersebut adalah “kesetiaan hamba yang tak terbatas pada tuannya.” Dari hasil kajian struktur tersebut akan tampak, bahwa unsur yang beraneka ragam serta saling berkaitan tersebut diberi fungsi tertentu dalam rangka HHT sebagai keseluruhan, sehingga kesatuan dan kebulatan hasil sastra HHT akan menjadi jelas. Kajian struktur dan fungsi yang jelas akan menimbulkan penafsiran yang tepat.

B.Proses Awal Penelitian dalam Kajian Struktur dan Fungsi Hikayat Hang Tuah

Langkah pertama dalam proses penelitian Kajian Struktur dan Fungsi Hikayat Hang Tuah  yang dilakukan Ibu Sulastin berdasarkan petunjuk Dr. Rolvink adalah membuat bagan-bagan mengenai episode Majapahit yang merupakan bagian yang sangat luas dalam cerita. Bagan tersebut dilengkapi dengan bagian-bagian cerita yang lain, sehingga kerangka cerita HHT dapat dilihat dalam bentuk bagan terdiri atas garis-garis yang menghubungkan bagian cerita yang satu dengan bagian cerita yang lain dan anak panah menunjukkan  perjalanan utusan dari Malaka  ke daerah lainnya dan sebaliknya. Bagan tersebut yang merupakan pangkal penelitian struktur dan fungsi HHT.

Berikut bagannya :

Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan buku-buku ilmu sastra sebagai referensi. Proses selanjutnya yakni pada inti kajian struktur dan fungsi HHT. Proses ini di bawah bimbingan  Prof. Teeuw. Dalam kajian struktur dan fungsi disertasi Ibu Sulastin ini, tidak diadakan penelitian secara filologi terhadap teks HHT. Teks yang digunakan sebagai objek penelitian dipilih berdasarkan kelengkapannya dan yang terpilih adalah teks tercetak Shellabear. Teks tersebut merupakan salinan dari enam buah teks berhuruf Arab-Melayu. Kutipan-kutipan yang ada disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan .

C. Identifikasi Teks Hikayat Hang Tuah

C.1 Ciri Khusus dan Hipotesa Hikayat Hang Tuah

Teks HHT merupakan teks yang sangat khas dan aneh dalam keseluruhan sastra Melayu. HHT juga merupakan karya sastra yang sangat terkenal untuk memahaminya diperlukan pendekatan secara mendalam mengenai kerangka, keadaan makna, dan struktur karangannya. Menurut isinya, HHT tidak dapat digolongkan dalam beberapa kriteria, seperti yang terdapat di bawah ini,

ü  HHT merupakan teks yang baru, menurut Winstedt karena karangan HHT yang terlalu baru, ia tidak dapat memasukkannya dalam golongan Melayu asli, Melayu India, Melayu Islam, ataupun Melayu Sejarah. Ia memasukkan HHT sebagai roman Melayu Jawa yang disusun menurut model cerita Panji.

ü  HHT tidak termasuk dalam golongan cerita rakyat yang khas, cerita pelipur lara, cerita-cerita jenaka, ataupun cerita dongeng.

ü  HHT bukan cerita epik India.

ü  HHT bukan cerita dalang

ü  HHT bukan cerita khas keagamaan

Oleh karena kekhususan HHT tersebut maka peneliti dalam hal ini Ibu Sulastin merangkum beberapa ciri khusus HHT yang sekaligus digunaka sebagai hipotesa:

  • HHT mengandung sesuatu dari macam-macam cerita, sehingga merupakan sintesa dari semua cerita-cerita tersebut.
  • Pada suatu pihak HHT tunduk pada konvensi sastra Melayu tertentu, pada pihak lain merupakan ciptaan yang tersendiri.
  • HHT memiliki kekhasan Melayu dan memiliki keterikatan kepada tradisi Melayu, tetapi sekaligus menurut tema dan bentuk internasional atau Melayu dalam konteks dunia luas.
  • Bentuk dan penyajian menunjukkan kebulatan dan konsistensi besar, juga apabila hanya dibaca sepintas lalu.
  • Plotnya memenuhi  norma sastra Aristoteles merupakan “a unified whole”.
  • Penyusun HHT secara sadar menjauhkan diri dari  penulisan sejarah dalam arti bahwa dasar penulisan teks sejarah itu seperti yang dikatakan Worsley adalah penulisan mengenai silsilah dinasti Klen yang berkuasa dipadu dengan nukilan-nukilan cerita; silsilahnya itu berfungsi struktural sebagai kerangka yang menghubungkan nukilan cerita yang satu dengan yang lain (Worsley, 1972:22).
  • Dalam HHT tidak terdapat silsilah.

C. 2 Situasi Teks Hikayat Hang Tuah

  1. Naskah salinan tangan :  tidakkurang dari dua puluh buah dan menurut katalogus Melayu tersimpan di berbagai perpustakaan, yang terdapat di Jakarta ada dua, yakni ML 207 dan ML 572
  2. Teks tercetak HHT : ada  tujuh buah  (lengkap dan petikan) , ada pula teks singkatan berjumlah tiga buah.
  3. Terjemahan; teks terjemahan HHt lengkap dalam bahasa Jerman diusahakan oleh Hans Overbeck, Die Geschitche von Hang Tuah. Meisterwerke orientalischer Literaturen, VII-VIII, dua jilid, Georg munchen, 1922. Berdasarkan teks Shellabear, 1908.

C.3 Teks yang Digunakan Sebagai Dasar Kajian Struktur dan Analisa Hikayat Hang tuah

Ibu Sulastin menganggap bahwa HHT sangat perlu diteliti secara filologi. Meskipun demikian beliau beranggapan bahwa dapat dihalalkan analisa sastra dilakukan terlebih dahulu. Bagi analisa struktur belum tentu teks yang paling asli yang menarik untuk diteliti; maka yang digunakan dalam kajian ini adalah teks yang lengkap karena diperkirakan dapat memberikan keterangan yang diperlukan.  Menurut teks yang sudah diterbitkan ada tiga buah edisi lengkap dengan huruf latin, ialah:

  1. Edisi Shellabear, 1908 (593 h.)
  2. Edisi balai Pustaka, 1948 (639 h.)
  3. Edisi Kassim Ahmad, 1964 (557 h)

Teks-teks yang telah diterbitkan dan berhuruf Latin tersebut ternyata mengandung segi-segi positif untuk penelitian struktur. Hal tersebut didasarkan kepada,

  1. Atas dasar pendapat sementara, teks menyajikan cerita yang bulat dengan jalan cerita yang baik.
  2. Ketiga teks diuji dan ternyata ketiganya tidak saling berbeda banyak, sehingga dapat dikatakan sejajar. Penelitian filologi tidak akan menimbulkan perubahan asasi yang penting bagi penelitian sastra, sebab telah digunakan pertimbangan dengan mengadakan ujian edisi mana yang akan dipakai dan cara perbandingannya yaitu dengan mengambil seperempat bagian permulaan dari tiga teks, tiga halaman di tengah pada episode yang sama, dan tiga halam terakhir cerita. Hasil perbandingannya adalah:
  • Jalan cerita ketiganya sama.
  • Kalimat-kalimat pada edisi Shellabear pada umumnya lebih pendek dan sederhana tanpa megganggu jalan ceritanya.
  • Pada edisi Kassim Ahmad ada tambahan di antara kurung yang meninggikan kedudukan Hang Tuah. Tambahan tersebut tidak terdapat pada edisi Shellabear dan Balai Pustaka.
  • Dalam bagian tengah yang diperbandingkan tidak terdapat perbedaan pokok.
  • Dalam bagian terakhir pada teks Kassim Ahmad terdapat tambahan lagi.

Kesimpulannya, pada umumnya tiga teks tersebut sama dan yang dipilih Ibu Sulastin adalah teks edisi Shellabear sebagai teks dasar yang menurut beliau dipandang cukup homogen,  baik dari sudut isi, maupun gaya serta tatabahasanya. Meskipun yang digunakan adalah edisi Shellabear apabila ada perbedaan yang relevan, diperhatikn pula dua edisi lainnya.

D. Hikayat Hang Tuah : Analisa Struktur dan Fungsi

D.I  Maksud dan Tujuan Kajian Struktur dan Fungsi

HHT adalah karya sastra Melayu klasik yang paling panjang(± 500 halaman) dan sangat terkenal. Dalam bunga rampai sasatra Melayu selalu terdapat nukilan hikayat ini. Cerita HHT sudah dikenal sejak abad ke-18 dan mulai saat itu cukup menarik perhatian para penyelidik Barat. Lebih-lebih pada abad ke-20 ini pengamatan sepintas atau penelitian mendalam banyak dilakukan ahli-ahli Barat dan Timur dari bidang keahlian lain.

HHT adalah karya sastra, maka pendekatan dan penafsiran yang tidak mengindahkan sifat-sifat karya sastra tidak memberikan hasil yang tepat. Hanya analisa sastra yang dapat menerangkan “kekaburan”, ketidakteraturan, kekacauan” dalam hikayat ini, hasil pandangan yang diperoleh atas dasar penelitian nonliterer seperti yang dilakukan oleh (sementara) peneliti Barat.

Sebagai sebuah ciptaan sastra Melayu HHT harus didekati secara mendalam dari segi kerangkanya berdasarkan keadaan, makna dan struktur karanganitu sendiri seperti kepribadian Melayu dan tidak selalu dari segi hasil pengaruh asing Pandangan mengenai tiap bagian karya merupakan bahan organik pembangun hasil seni. Tiap unsur tersebut di tempatnya masing-masing  mendukung fugsi yang jelas dalam rangkaian peristiwa yang ada dalam keseluruhan cerita. Pandangan tersebut merupakan titik pangkal kajian HHT dalam disertasi Ibu Sulastin ini.

Penelitian struktur menolong pembaca memahami tujuan pengarang, isi cerita serta latar belakangnya lebih baik, sebab tiap-tiap hasil sastra itu tidak hanya berasal dari usul, tetapi juga mempunyai sejarah kejadiannya, artinya tiap teks direka atau dilahirkan guna memenuhi suatu fungsi. Fungsi tersebut akan memenuhi strukturnya. Struktur dan fungsi adalah dwitunggal.

Kajian struktur HHT di dalam disertasi Ibu Sulastin disusun struktur menurut bagian-bagian yang mendukung sendi dasar bangunan hikayat ini, yaitu kesetiaan hamba yang tak terbatas pada tuannya. Dari kajian struktur akan tampak, bahwa unsur yang bermacam-macam serta saling berkaitan tersebut diberi fungsi dalam rangka HHT sebagai keseluruhan, sehingga kesatuan dan kebulatan hasil sastra ini menjadi jelas.

D. II Struktur Hikayat Hang Tuah

  • Tema

Tema pokok HHT yakni melambangkan pribadi hamba yang setia dan sangat berbakti pada tuannya secara fiksi.  Sesuai dengan judulnya, maka hikayat ini adalah cerita mengenai Hang Tuah. Hang Tuah menjadi pusat seluruh cerita. Ia merupakan kekuatan pendorong dalam segala perbuatan dalam cerita yang sesuai dengan ciri-ciri yang dilekatkan kepadanya sebagai tokoh pusat. Penafsiran makna judul menjadi makin terang di dalam tema pokok yang dengan jelas dan eksplisit dicantumkan sebelum cerita dimulai:

“inilah hikayat Hang Tuah yang amat setiawan pada tuannya dan terlalu sangat berbuat kebaktian kepada tuannya.”

Baik dalam episode inti maupun episode sampingan tema pokkok diwujudkan. Dengan gambar dijelaskan bagian dengan seluruh cerita dalam menunjang tema pokok sebagai berikut:

Hang Tuah-setiawan/kebaktian-tuannya

                                                                                                  = Jumlah makro

HT-s/k-t

HT-s/k-t

HT-s/k-t

= Jumlah mikro

Keterangan : HT    = Hang Tuah

s/k  = setiawan/ kebaktian

t     = tuannya

Tiap jumlah mikro berada dalam jumlah makro dan sebaliknya, dengan perkataan lain keseluruhan cerita terdapat dalam tiap bagian, keseluruhan cerita sama dengan tiap bagian.

  • Perwatakan

Perwatakan dalam kajian ini ditinjau dari sudut struktur dan fungsi ceritanya. Cerita ini adalah cerita Hang Tuah, jadi tokoh utamanya adalah Hang Tuah. Kehadiran tokoh-tokoh lainnya itu berfungsi untuk menonjolkan peranan Hang Tuah. Watak tokoh-tokoh paling jelas dapat dilihat melalui pendekatan oposisi, yakni dalam hubungannya dengan Hang Tuah dan dalam oposisi terhadapnya. Struktur perwatakannya adalah relasi dan oposisi.

  • Struktur waktu

HHT merupakan cerita yang berjalur tunggal sehingga tidak ada bagian waktu yang lebih tua, ceritanya tidak terjadi pada dua tingkat waktu seperti dalam cerita berbingkai. Kejadian-kejadian dalam HHT berlangsung berurutan dalam satu garis mulai asal usul Hang Tuah sampai hidupnya yang abadi sejajar dengan timbulnya sampai runtuhnya Malaka. Jenis berlangsungnya waktu adalah jenis bersambung-sambung.

  • Struktur ruang

Pada hakikatnya seluruh teks dapat dipandang sebagai susunan ruang tanah Melayu secara simbolis Tanah Melayu dalam arti yang luas mencakup seluruh dunia menurut pandangan orang Melayu waktu itu. Dalam dunia tersebut ada bagian dalam yang langsung di bawah kekuasaan malaka dan bagian luar yang berhubungan baik dengan Malaka.  Peran pusat dalam menyusun tatanan ruang dunia Melayu ini adalah hang Tuah dengan perlawatannya menjelajahi ruang yang melambangkan:

  1. Penyebarluasan kebudayaan Malaka; memungut kebudayaan dari negara-negara lain.
  2. Ke Majapahit: konfrontasi menurut pengesahan Majapahit sebagai negara pertama di Nusantara.
  3. Ke negara tetangga/ luar negeri: konsolidasi Malaka negara yang paling berkuasa menanamkan kebudayaan dan kekuasaan Malaka.
  4. Di luar dunia yang telah tersusun ini masih ada dunia yang diwakili oleh Feringgi (Portugis).
  5. Seluruh “dunia” megakui kedaulatan Malaka.

D. III Penyimpangan Hikayat Hang Tuah dengan Aturan Tradisi Melayu

Penyimpangan HHT terdapat pada lapisan teks, tema pokok, plot, motif cerita,  episode, subepisode, struktur ruang, struktur waktu, unsur cerita, perang, penggunaan bahasa, latar, jenis sastra, penutup, penulisan, dan pengarang.

  1. 1.      Teks

Teks HHT sangat khas dan aneh dalam keseluruhan sastra Melayu. Teks ini tidak masuk daloam salah satu kelompok teks tradisional.  Teks itu pada satu pihak tunduk kepada berbagai macam konvensi dan tradisi Melayu.  HHt adalah lukisan manusia-manusia Melayu yang hidup dengan cita-cita, dengan pandangan dunianya dan sikap hidupnya pada suatu masa.

  1. 2.      Tema pokok

Hal yang tidak biasa dalam hikayat ini adalah adanya satu raja dan satu hamba yang sepanjang hikayat memelihara keutuhan cerita melalui tema pokok.  Perlawanan terhadap supermasi Majapahit dan pengukuhan kembali identitas Melayu terasa dalam tema hikayat ini.

 

  1. 3.      Plot

Plot dalam HHT tidak dibangun oleh motif-motif cerita yang berurutan secara kronologi biasa, melainkan saling berkaitan.  Di dalam cerita HHT yang sangat besar terdapat aneka ragam peristiwa dan episode yang masing-masing menduduki tempat dan fungsinya sendiri di dalam keseluruhan cerita dan saling berhubungan secara tak terduga sehingga dapat mempertinggi ketegangan.

  1. 4.      Latar

Penyimpangan HHT dalam latar ialah latarnya yang bersifat realistis. Nama-nama tempat disebutkan dengan jelas tidak seperti sastra Melayu rekaan  pada umumnya yakni adanya latar  Majapahit, Tuban, Lasem, Jaya Katra, Trengganu, Johor, Mekkah, dan Istambul.

D. IV Sifat-sifat HHT yang perlu mendapat perhatian

HHT memiliki sifat-sifat universal seperti pelakunya yang terdiri atas orang-orang yang berbicara, temanya yang jelas, dll. membuat HHT dikenal sebagai roman. Meskipun demikian, ada dua perkara dalam HHT yang perlu diperhatikan mengenai sifat umum roman, yakni.

  1. Peranan Hang Tuah lebih luas daripada peranan tokoh yang terdapat pada roman biasa. Hang Tuah mewakili perranan masyarakat Melayu dalam tanah Melayu yang dicita-citakan.
  2. Kurangnya ketegangan akibat cinta dalam HHT. Meskipun demikian, nilainya dapat diimbangi dengan adanya ketegangan-ketegangan jenis lain dalam berbagai lapisan dan bagian cerita.

D. V Kajian Fungsi Hikayat Hang Tuah

Sifat-sifat cerita HHT membuat pembaca Melayu merasa terlibat dalam teks, maksudnya meskipun bentuknya itu rekaan semata-mata, yang membawa pembaca ke dunia semu, dunia yang tidak nyata, namun orang Melayu dari sultan sampai hamba dapat menempatkan diri dalam dunia itu. Eksistensi Melayunya tampak lebih nyata melalui bentuk rekaan tersebut.

Kejutan yang sungguh terdapat dalam HHT adalah sepanjang cerita pembaca terus menerus berada dalam garis pemisah antara nyata dan tidak nyata, antara sungguh-sungguh terjadi dan tidak, karena segala unsur dan aspek teks memang mendorong pembaca ke arah kesan makna ganda itu. Hal ini tampak pula pada arti bagian-bagian teks.

HHT merupakan karya sastra yang kaya akan tanda-tanda pengenal dan kejutan-kejutan. Berdasarkan penelitian mengenai kajian struktur, HHT memiliki ciri khas tradisional Melayu namun nilai-nilai yang terdapat di dalamnya bertaraf internasional sebagai roman. HHT patut mendapat tempat dalam ranah sastra umum dan warga sastra dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s