kodikologi

KODIKOLOGI

 

Kodikologi adalah bagian ilmu filologi yang memepelajari naskah.

kodikologi

Filologi terbagi menjadi dua, yakni:

Tekstologi (mempelajari teksnya)

 

Kodikologi à codex dan logos

Codex : naskah(manuscript) handscript (Belanda)

Naskah = wujud fisik/ realisasi dari teks

Nakah itu bisa dipegang. Teks adalah sesuatu yang dibaca/ isi.

 

Filologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan suatu bangsa berdasarkan tulisan dalam naskah.

Skriptorium adalah tempat penyalinan. Di Indonesia namanya “padepokan”. Salinan tersebut membuat teks baru.

 

“Siti Nurbaya” bisa dipelajari dalam filologi.

Misalnya : variasi naskah siti nurbaya ditulis oleh beberapa orang yang berbeda karena storage/ latar belakangnya berbeda-beda.

Contohnya : dalam cetakan I, Siti Nurbaya memakai pita hitam. Sedangkan dalam cetakan 14, Siti Nurbaya memakai pita coklat.

Analisisnya : mungkin penerbit ingin meraih keuntungan dengan jalan menggambarkan tokoh sesuai dengan trend masa itu.

 

Tradisi Penyalinan

  1. Terbuka : ada pengaruh yang mungkin lebih kuat dan pikiran sendiri.
  2. Tertutup : tidak ada pengaruh dari luar, kecuali buku. Misalnya di Eropa abad pertengahan orang menyalin di tempat terisolir.
  • Di Jawa abad ke 14 ada padepokan di lereng merapi dan merbabu untuk menyalin suatu naskah.
  • Hasil salinan (tradi penyalinan tertutup) adalah hasil salinan setia (tidak mengubah sedikit pun) à kalau ada kekeliruan berarti orangnya kurang mengerti bahasa pada naskah itu.

 

Naskah Syair Kaliwungu (ML 198 F)

1 naskah ada beberapa teks, contoh:

–          Hikayat Maharaja Ali (hal 1-33) Arab Melayu. à seorang raja zaman nabi Isa, yang menjadi tengkorak dan bisa berbicara setelah memohon kepada nabi Isa.

–          Hikayat Darma Tasia (hal 33-42) Arab Melayu.

–          Hikayat Abu Sama` (hal 43-67) latin à Abu Sama dapat berbicara sebelum lahir.

–          Syair Kumkuma (hal 68-71) latin .

–          Hikayat Jentayu (hal 71-85) latin

–          Syair Perang Kaliwungu (hal 86-174) latin.

 

  • Satu teks dapat ditulis dalam 30 naskah, misalnya: Hikayat Indrapurna.
  • Satu teks yang terdiri atas satu naskah dan tertulis dalam satu halaman. Sebagai contoh naskah yang berupa surat.
  • Khasanah kebudayaan masa lampau bangsa Indonesia yang sampai kepada kita sebagai warisan kebudayaan para leluhur antara lain terdapat di dalam berbagai cerita yang turun temurun secara lisan dari mulut ke mulut yang kini sebagian telah ada dalam bentuk tulisan dan ada yang dalam bentuk lisan. Warisan kebudayaan masa lampau yang sampai kepada kita yang tertulis ada yang dalam bentuk tulisan tangan (naskah) dan ada dalam bentuk cetakan.
  • Handschrift dalam catalog disingkat dengan HS (tunggal), HSS (jamak)
  • Manuschrift dalam catalog disingkat MS (tunggal), MSS (jamak)
  • Codex à ruas batang pohon yang ada kaitannya dengan pemanfaatan kayu sebagai alat tulis. Dalam perkembangannya kata codex dipakai untuk karya masa lampau yang ditulis dalam bentuk naskah.
  • Jadi kodikologi adalah seluk beluk semua aspek naskah antara lain: bahan, aksara, umur, tempat tulisan, dan perkiraan penulis naskah.
  • Wilayah kerja kodikologi adalah sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, penelitian tempat penyalinan naskah, umur naskah, masalah penyusunan catalog, perdagangan naskah, dan penggunaan naskah.
  • Penyalinan/ penuturan disebut transmisi.
  • Penyalin yang mempunyai kreatifitas (mungkin menambah/ mengurangi) disebut pengarang kedua dalam ilmu filologi.
  • Umur naskah dapat dilihat dari kertasnya, yaitu tanda airnya, interneevidensi (tanda-tanda yang ada di dalam teks) dan exterevedensi.

 

Penyusunan Katalog Zaman Dahulu

  • Hanya berupa data
  • Hanya berisi nomor urut dan judul
  • Terkadang ada nama penyumbang dan nomor urut
  • Terkadang ada nama penyumbang, nomor halaman, baris, jumlah kata, bahasa huruf.
  • Synopsis

 

 

SITUASI PERNASKAHAN DI INDONESIA

 

  1. A.   Sumber Naskah

Daerah yang merupakan sumber naskah adalah:

  1. Semua kawasan di Indonesia yang memiliki huruf dan bahasa daerah untuk menuliskan hasil budayanya,
  2. Ada daerah-daerah yang menuliskan hasil budaya masa lampau wilayahnya dengan memanfaatkan huruf Arab yang sudah diadaptasi dengan memanfaatkan bahasa daerahnya.
  • Sumatera

Diantaranya wilayah yang merupakan sumber naskah adalah Aceh, Batak, Minangkabau, Kerinci, Riau, Siak, Palembang, rejang di Bengkulu, Pasemah, dan Lampung. à naskah yang berasal dari daerah Aceh, ada naskah yang berbahasa Aceh dan ada pula naskah yang berbahasa Melayu. Huruf yang dimanfaatkan adalah huruf Arab.

 

  • Jawa

Naskah-naskah terdapat di daerah Banten, Jakarta, Pasundan dan Cirebon, Yogyakarta, Surakarta sepanjang Pantai Utara Jawa dari Brebes sampai Gresik, Madura, di daerah pegunungan baik di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

 

  • Bali

Daerah naskah terdapat di seluruh wilayah ini.

 

  • Kalimantan

Daerah naskah dapat dijumpai di Sambas, Pontianak, Banjarmasin, dan Kutai.

 

  • Sulawesi

Naskah-naskah ditemukan di daerah Bugis, Makassar, Buton dari Kendari.

 

  • Nusa Tenggara Barat

Naskah-naskah ditemukan di Lombok dan Sumbawa Besar (Sumbawa, Dompo, dan Bima)

 

  • Wilayah Kepulauan Indonesia Timur

Naskah-naskah ditemukan di Ternate dan Maluku.

 

  1. B.   Huruf Arab

Huruf Arab yang dimanfaatkan di kawasan Indonesia dan Malaysia dikenal dengan sebutan huruf Arab-Melayu (huruf Jawi). Jawi  bagi huruf Arab yang dimanfaatkan di kawasan Indonesia dapat dikaitkan dengan panggilan Jawi yang dikenakan oleh orang Arab terutama di Mekkah terhadap orang Melayu dan Indonesia hingga masa kini.

Kata jawi  ini adalah kata sifat yang membawa arti “orang Jawa” atau berasala dari “tanah Jawa”. Oleh karena itu, orang Jawa menggunakan huruf Arab itu kemudian menyebutnya dengan huruf “Jawi

 

  1. C.   Huruf Arab, Bahasa lain
  • Biasanya huruf Arab yang dipakai untuk bahasa daerah tertentu diberi tanda baca atau diakritis.
  • Huruf Arab yang dipakai untuk menulis bahasa Bima disebut huruf Arab Bima. Ada pula huruf Arab Aceh, Bugis, dsb.
  • Naskah Jawa yang ditulis dengan huruf Arab disebut naskah Pegon. Hurufnya dinamakan huruf Arab Pegon.

Naskha Jawa/ bahasa Jawa :

  • pegon (diberi tanda baca/ harokat)
  • Gundhil/ gundhul (tidak diberi tanda baca)

 

  1. D.  Huruf Pegon

Huruf Pegon banyak dipakai oleh masyarakat Islam di Jawa, tempat orang mempelajari teks-teks Melayu dan Arab. Pada umumnya, sastra yang beraroma Islam ditulis dengan huruf Pegon/ gundhil.

 

Contohnya:

Syekh Baginda Mardam : naskah Jawa

Menggunakan huruf Pegon dan Jawa

 

  1. E.   Macam-Macam Huruf di Indonesia

Nakah kono koleksi Museum Nasional (jusuf, 1983) terdapat suatu bagian yang berjudul “macam-macam huruf di Indonesia” yang meliputi huruf-huruf latin, Jawa, Bali, Rencong, Batak Anjaba, Batak Mandailing, Batak Toba, Batak Dairi, Batak Simalungu, Batak Karo, Bugis dan Arab.

 

  1. F.   Macam-Macam Huruf Daerah

–          Kerinci à huruf Rencong (Rencong Kerinci, Rencong Rejang/ Melayu Tengah/ ka-ga-nga, huruf Batak)

–          Huruf Lampung

–          Huruf Sunda

–          Huruf Jawa à Jawa Kuno, Jawa Buda, Jawa Baru, Jawa Bali.

Huruf Jawa Baru à Jawa Barat, Jawa Tengah: Keraton Surakarta, Keraton Yogyakarta, Pasar Kliwon, Jawa Timur, Jawa Palembang.

–          Huruf Bali

–          Huruf Sasak

–          Huruf Bima

–          Huruf Ende

–          Huruf Madura

–          Huruf Bugis (dipakai untuk menulis bahasa Sumbawa dan Bima pada masa lampau)

–          Huruf Makassar

 

  1. G.   Huruf Sunda

Dari segi huruf ada empat macam huruf untuk menulis naskah Sunda:

  1. Huruf Sunda Kuno, abad ke-16
  2. Huruf Jawa-Sunda, abad ke-17, pertengahan abad 19
  3. Huruf Arab, sejak pertengahan abad ke-19
  4. Huruf latin, akhir abad ke-19

 

  1. H.  Tempat Penyimpanan Naskah-Naskah Jawa

–          Museum

–          Perpustakaan

–          Tempat pribadi

–          Keraton

 

Van Der Molen telah membuat daftar semua catalog yang ada mengenai koleksi naskah Jawa ada 21 negara yang mengoleksi naskah Jawa, yaitu: Amerika, Australia, Austria, Belanda, Belgia, Ceko, Denmark, Indonesia, Inggris, Irlandia, India, Jerman, Malaysia, Norwegia, Perancis, Rusia, Selandia Baru, Slovakia, Swedia, Swiss, dan Thailand.

 

  1. I.     Naskah Jawa di Indonesia

Di simpan di:

  • Kasulatanan Yogyakarta
  • Pura Pakualaman Yogyakarta
  • Keraton Surakarta
  • Museum-Museum di Yogyakarta dan Surakarta
  • Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta
  • Balai Kajian Sejarah dan Nilai-nilai tradisional Yogyakarta
  • Griya Dewantara Yogyakarta
  • Fakultas Sastra UI, UGM, Universitas Negeri Banyuwangi

 

  1. J.     Naskah Batak

Tersimpan di berbagai negara berikut:

Amerika, Australia, Austria, Belanda, Belgia, Denmark, Indonesia, Inggris, Irlandia, India, Jerman, Perancis, Rusia, dan Spanyol (Voorhoeve, 1977)

 

  1. K.  Naskah Sunda

–          Tersimpan di berbagai negara berikut :

Belanda, Inggris, Indonesia, dan Swedia (Ekadjati, 1988)

–          Di Indonesia, tersimpan di perpustakaan Nasional, museum-museum Bandung, Sumedang dan Kuningan.

–          Menurut Ekadjati , yang dimaksud naskah Sunda adalah naskah yang dibuat di daerah Sunda yang terlepas dengan huruf dan bahasa yang dimanfaatkannya.

–          Sunda mempunyai 4 bahasa dan 4 huruf.

–          Bahasa Sunda unik, karena:

  1. Karena tidak memenuhi persyaratan sumber naskah
  2. Karena mempunyai 4 bahasa dan 4 huruf

 

  1. L.   Naskah Bali

–          Tersimpan di nagara : Inggris, Amerika, Belanda, dan Indonesia

–          Di Indonesia tersimpan di Gedung Kirtya (Singaraja) dan Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali di Denpasar.

 

Skirptorium Naskah Melayu dan Jawa

Scriptorium (t); scriptoria (j) berasal dari kata kerja Scribere = menulis

Pada mulanya: sebuah ruangan di biara-biara Eropa (pd abad pertengahan) tempat penulisan atau penyalinan naskah. Letaknya di dekat perpustakaan. Di biara-biara yang miskin, scriptorium bertempat di Klausura (sebuah ruangan khusus dalam biara yang terisolir dari dunia luar).

*klausura itu negara yang miskin, merupakan tempat penulisan naskah.

 

Eropa: penyalinan naskah merupakan sumber penghasilan penting bagi biara. Untuk memenuhi permintaan naskah (dari para bangsawan dan rohaniwan) biara-biara mengorganisasikan suatu karya kolektif secara professional (kalografi yang terbaik, dekorasi yang spesialis, tukang jilid yang teliti).

 

Di Indonesia : penyalinan naskha dilakukan di tempat khusus seperti padepokan, istana raja, kel. Bangsawan, pesantren, lembaga milik pemerintah (zaman Belanda).

Pengayomnya : raja, bangsawan, rohaniawan, ulama.

 

 

Tempat Penyalinan Naskah Jawa

 

*Merapi dan Merbabu (huruf Jawa Buda/ Gunung)

Di G. Merapi alasnya lontar, nipah

–          Punggung timur laut : Sidapaksa; “Putu Sangaskara”

–          Kaki timur laut, Kumeted: “Wiwaha Kawi Surakarta”

 

Di G. Merbabu (Damalung, Pamrihan) – alas tulis lontar

–          Kaki timur laut : “Kakawin Arjinawijaya”

–          Puncak barat daya, Pamardin : “Kunjarakarna”

–          Kaki barat daya, Gegerwindu : “Kunjarakarna”

–          Kaki barat, Rabut Pekik : “Kakawin Arjunawiwaha”

–          Kaki barat laut, Wanakasa : “Kakawin Arjunawiwaha”

 

Isi teks : pawukon, kakawim, kidung-kidung, mantra, kartibasa, sesaji, obat-obatan trasdisional.

 

  • Scriptorium Kraton Yogyakarta (Masa HB V) — penyalin spesialis: penyalin bekerja setiap hari dari dini hari sampai larut malam; sangat produktif pada bula Ruwah, Pasa, Sura.
  • Scriptorium Pakualaman (PA I-VII) – alas kertas.
  • S. Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Jakarta) didirikan pada 24 April 1778. Tokoh-tokoh: Cohen Stuart (1812-1871) mengawasi penyalinan naskah yang dianggap sulit dibaca dan rusak; menekankan akurasi literal dalam proses penyalinan.

 

Tempat Penyalinan Naskah Melayu

  • Scriptorium Algwemeene Secretarie (Biro Gubernur Jendral Hindia Belanda), didirikan tahun 1819 di Jakarta. Para penyalinnya adalah Muhammad Ching Saidullah; Muhammad Sulaiman; Muhammad Hasan bin Haji Abdul Aziz.
  • S. Pecenongan (Jakarta) – milik keluarga Fadli. Ciri-cirinya: menulis nama di halaman depan naskah, mengiklankan hikayat dan syair yang telah disewakan, pencerita muncul di dalam cerita — “Maka bertangis-tangisan hingga pengarangnya jua turut menangis”, pencerita menyapa audiens secara langsung — “Hai sekalian Saudaraku yang ada duduk, tolonglah berkata, “Amin”, tokoh cerita menyapa secara langsung pencerita.
  • S. Naskah-naskah Riau : Tanjung Pinang (P. Bintan), P. Penyengat, Hulu Riau, Kampung Bhulang adalah pusat kegiatan penulisan dan penyalinan naskah. Naskah-naskah Riau dapat digolongkan 10 jenis teks: ajaran Islam, epos, sejarah, nasihat, pelipur lara, undang-undang, silsilah, obat-obatan, doa, dan pengetahuan bahasa. Nama-nama penyalin Riau : Encik Husein bin Ismail, Encik Ismail bin Datuk Karkun, Encik Said, Haji Ibrahim. Nama pengarang: Engku Haji Ibrahim, Raja Ali Haji, Raja Haji Ahmad, Salaman binti Ambar, Raja Haji Dawud. Kolektornya Rafless (SCH à Scumanha), Von de Wall (Vd.W), Snouck Hurgronje, W à Wilkinson, Oph à Van Ophoysen, KL à Klinkert, PGà Pgeaud, CSà Cohen Stuart,

Cirri-ciri naskah riau:

  1. Tulisannya kurang rapi.
  2. Format naskahnya (ukuran kwarto) diberi garis-garis.
  3. Cap kertas naskahnya pro patria àhorn 1882, superfied, dan gambar gajah. Gambar gajah biasanya ada aksara cina-nya.
  4. Naskah-naskah tersebut memiliki kolofon yang komplit seperti angka tahun, nama kampung, ilustrasi, dan iluminasi.
  5. Naskah riau memiliki pembagian bab.
  6. Ada rubrikasi (pewarnaan dengan tinta merah pada kata atau kalimat yang dianggap penting) à dalam perkembangannya tidak harus selalu merah, yang penting beda warna.
  7. Kolofon naskah riau. Contoh: syair raja Banjarmasinà angka tahunnya menggunakan angka tahun masehi. Yang menyurat syair ini adalah Raden Al Habib Banjarmasin pada hari bulan Februari 1871. Kemudian diturunkan pula oleh Amrullah juru tulis di kantor Algemeene Secretarie pada hari bulan Februari 1872.
  8. Cerita Pak Belalang. à tersurat di dalam Riau di Pulau Penyengat pada dua hari bulan Robiul Awal hari kamis pukul 7 pagi Sanat 1287 berbetulan dengan dua bulan juni 1870.
  9. Undang-undangMelayu dari ….  à bermula bahwa inilah surat risalah yang pendek pada menyatakan perkataan undang-undang daripada seripaduka sultan Mahmud Syah yaitu sang purba yang turun dari …

Kolofonnya: tamat kepada dua likur hari bulan Zulkaidah pada malam sabtu waktu pukul jam dua belas tarekh tahun1253. Adapun yang empunya surat undang-undang ini tuan Walbeen Riau di Tanjung Pinang adanya. Wakatabihi Encik Said peranakan Bugis di dalam negeri Riau dari Al Khafiz Indrasakti. Intiha walkalam.

Naskah Riau dikelompokkan menjadi 10 kelompok:

  1. Kelompok ajaran Islam, misalnya sabilal muhtadin, syair siti sianah, `at tariqhat al muhammadiyah
  2. Kelompok yang berisi sejarah, misalnya Hikayat Negeri Johor
  3. Kelompok yang berisi pelipur lara,  misalnya Kisah Seorang Tukang Kayu yang Bijaksana, Syair Riwayat Perkawinan Raja Muhammad Yusuf dengan Raja Zalekha di Pulau Penyengat.
  4. Kelompok yang berisi silsilah, misalnya Silsilah Keturunan Raja-Raja Riau, Silsilah Laksamana Encik Muhammad Yusuf
  5. Kelompok yang berisi obat-obatan, misalnya Asal Ilmu Tabib, Aneka Masalah Obat-obatan, Pasal Penawar Racun dan Obat.
  6. Kelompok yang berisi doa, misalnya Doa dan Ilmu Firasat
  7. Kelompok yang berisi pengetahuan Bahasa, misalnya Bustahnul Katibin, Syair Kutipan Mutiara
  8. Kelompok yang berisi ramalan, misalnya Pasal Perempuan Memulai Suatu Pekerjaan
  9. Kelompok yang berisi nasehat, misalnya Syair Nasehat Memelihara Diri, Ikatan Setia, Syair Tuntunan Kelakuan.
  10. Kelompok yang berisi aneka ragam, misalnya Catatan Harian, Surat Keputusan, Izin Kerja, Surat Pemberitahuan, dsb.

 

  • Rekto à halaman depan naskah setelah sampul.
  • Verso à halaman belakang rekto.
  • Format à ukuran naskah yang ditulisi.
  • Iluminasi à gambar hiasan yang terdapat di sampul naskah.
  • Ilustrasi à penjelasan di dalam teks.
  • Kuras à kertas yang dilipat dan dipotong lalu disusun dan ditumpuk. Setiap susunan terdiri atas 6, 8, lembar dst. Setiap tumpukan itu dijilid.

 

Kolektor Naskah

  • Raffles – pegawai pemerintah Inggris — kolektor naskah Jawa dan Melayu yang tersimpan di Royal Asiatic Society, London.
  • Karl Scoemann — jumlah koleksinya 272 (Bali: 76; Melayu:47; Bugis: 35; Kawi: 25; Jawa:25; Batak: 5; Lampung: 5; Makassar: 3; Tamil, Arab, India) — disimpan di Kniglicche Hofbibliothek, Berlin.

Naskah-naskah Indonesia sampai ke Luar Negeri

–          Lewat penjarahan tentara Belanda yang menyerbu istana-istana raja/ tempat-tempat lain.

–          Inggris menduduki istana Yogyakarta (1812) — naskah-naskah Jawa diserahkan.

–          Ketika Belanda menyerbu para pejuang, naskah-naskah ditinggalkan di daerah Aceh dan ada yang tersimpan di Jakarta; Damste dan Van de Velde menyelamatkan sebagian naskah Aceh.

–          Snouck Hurgronje menyuruh menyalin beberapa naskah Aceh.

–          Lewat jalur perdagangan

–          Sebagai bahan penelitian

–          Sebagai hadiah (15 naskah Melayu koleksi Raffles di RAS merupakan hadiah dari Kyai Suradimenggolo, Bupati Demak di Bogor)

–          3 naskah yang tersimpan di univ Cambridge sejak th 1972, dulunya merupakan koleksi Prof. Thomas Erpenius (ahli bhs Arab). Thomas Erpenius merupakan kolektor naskah yang sangat besar yang tersimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Leiden, Cambridge. Di antara naskah koleksi Epenius ada 6 naskah Melayu uang ada  tanda tangannya Peter Willem dan Elbink (pedagang yang pernah tinggal di Aceh th 1604)

–          Di beli oleh berbagai perpustakaan dalam pelelangan buku, misalnya th 1848 Perpustakan Universitas Leiden membeli sebuah naskah dari pelelangan Nedermeyer Bosch; 1885 KITLV (Leiden) membeli naskah dari pelelangan di Martinus Nijhoff; th 1900 Univ Bodleian Oxford membeli naskah Jawa “Cerita Wayang” dari pelelangan Hodgson.

 

Pengguna naskah

  1. Penyimpan dan penata, dilakukan secara sistematis untuk membentuk sebuah koleksi naskah. Perawatan: untuk melestarikan naskah menjaga dari kerusakan. Salah satu dari fungsi penyalinan naskah adalah menjaga kelestarian naskah.
  2. Peneliti (para ahli filologi): merumuskan dan menangani masalah-masalah berkenaan dengan teknologi pembuatan dan perawatan naskah, waktu penulisan naskah, asal-usul naskah, hubungan antarnaskah, hubungan antar teks, penyusun teks, sejarah teks, struktur teks, isi teks, fungsi naskah dan teks, masalah kebahasaan, masalah perteksan. Hasil kajian para ahli filologi: menajdi sumbangan bagi pengkajian ilmu-ilmu lain, di antaranya sejarahy, sastra, kebudayaan, kesenian.
  3. Pembuat:

–          Pembuat naskah sekaligus pengarang/ pujangga: menulis naskah adalah suatu pemenuhan kebutuhan batin untuk menyatakan pikiran-pikirannya, untuk mempraktekkan kiat-kiat setetikanya, untuk menyatakan sikap hidup dan tanggapan dunianya.

–          Pembuat naskah hanya melakukan penyalinan, baik atas perintah, keinginan sendiri atau pesanan (pada waktu ini golongan ini yang paling banyak)

  1. Pencari petunjuk: memanfaatkan naskah — golongan ini melihat naskah sebagai sumber petunjuk dari nenek moyang, misalnya: para pengguna primbon (meskipun teks-teks itu sudah dicetak dan disebarluaskan secara umum — golongan ini merasa dapat terpenuhi kebutuhannya)
  2. Perawat pusaka: golongan ini melihat naskah sebagai benda keramat yang disucikan. Anggapan bahwa naskah sebagai benda keramat: proses pewarisan, naskah ini dinilai bersifat suci.

Kertas sebagai alas naskah di Indonesia

–          Polos putih; biru muda; bergaris (horizontal, vertical)

–          Ukuran kertas: octavo (8°), kuarto (4°), folio (2°)

–          Kertas merupakan ciptaan Tsai Lun (menteri Cina pada zaman Kaisar Wu Di, Dinasti Han, th 105). Sekitar 600 th hanya dikenal di Cina. Th 750 dikenal oleh masyarakat Arab (tawanan perang Cina) menceritakan rahasia pembuatan kertas.

 

Kertas

Sebelum di temukan kertas di Cina, korespondensi dan administrasi memanfaatkan sutera dan bamboo. Kertas di temukan di Cina pada tahun 105 M Wyu Di Korea dan Jepang membuat kertas pada tahun 610. Th 750 perang Cina dengan Arab di Turkestan — tawanan perang Cina membuka rahasian pembuatan kertas — pembuatan kertas berkembang di negara-negara Arab (Baghdad, Damaskus, Tripoli)

 

Th 1100 terdapat pabrik kertas di Fez

Abad ke 12 pembuatan kertas di Spanyol

Th 1276 pembuatan kertas di Italia (Febriano)

Th 1338 pembuatan kertas di Perancis

Th 1398 pembuatan kertas di Nurenberg, Jerman

Th 1438 pembuatan kertas di Gennep, Belanda

Abad XVII Amsterdan sebagai penghasil kertas untuk Jerman dan Perancis. Sebelumnya Belanda sebagai pengimpor kertas dari Jerman, Perancis, dan Swiss.

 

Kertas di Indonesia ada tiga macam:

  1. dari Belanda
  2. dari Inggris (lewat Malaysia)
  3. dari Italia

 

abad XIX pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan khusus sebagai pengekspor kertas ke Indonesia yang sangat menopang keberlanjutan pabrik-pabrik kertas di Belanda. Th 1862 ada peraturan yang mewajibkan lembaga-lembaga pemerintah memakai kertas Pro Patria buatan Belanda. Pemerintah Belanda juga menggunakan kertas khusus untuk keperluan surat menyurat kepada orang-orang penting di Indonesia dengan menggunakan kertas “Zurat” (dari Surate, India)

 

cap kertas = tanda kertas (watermark): suatu tanda dagang (trade mark) untuk menunjukkan kualitas, ukuran, pembuat kertas.

 

Cap kertas yang tertua adalah Fabriano buatan Italia (1282)

Macam-macam cap kertas:

(1)  pro patria, Foolschap (Belanda) — 1704-1810

(2)  lambang Amsterdan — 1635-1796

(3)  penunggang kuda kerajaan Belanda — 1762-1796

(4)  gambar dengan tulisan Made in Austria

(5)  gambar monogram kerajaan Inggris — 1687-1775

(6)  strasbury Lily (abad ke 17)

(7)  gambar 7 propinsi, Singa, Pedang — 1656-1800

(8)  sarang lebah Tuan Hong — 1683-1807

 

kolofon dan Penanggalan

kolofon (Yunani: kolophon): bagian naskah yang member informasi bermacam-macam (nama penyalin/penulis, tempat penyalinan/penulisa, tanggal, penyebutan nama orang yang meminta menulis/ menyalin, anjuran agar pembaca berhati-hati memperlakukan naskah, ada pula yang mencantumkan sewa dan harga naskah)

 

letak kolofon: pada awal atau akhir teks. Kadang-kadang ditulis dalam dua atau tiga kalimat saja, kadang-kadang berupa syair yang berbait-bait panjangnya

 

contoh kolofon:

1)     Tamat Hikayat Indraputra pada Hijrat seribu seratus sepuluh esa pada sembilan likur hari bulan Rajab pada hari Arbaa dan pada waktu Lohor (RujiatiMulyadi, 1983:206) à selesai menulis hikayat indraputra pada jam 12 hari rabu tanggal 29 bulan rajab tahun 1111.

2)     Demikian Adat Segala Raja-Raja Melayu. Tamat kepada dua likur hari bulan syakban hari isnin jam pukul sepuluh dan yang punya surat ini Tuan Raja Pakir, Sanat 1232 (Panuti Sudjiman, 1983: 95).

 

Penanggalan yang terdapat di dalam dunia naskah di Indonesia: pada kolofon, umumnya menggunakan tahun Hijriah (pada naskah muda kadang-kadang dicantumkan pula tahun Masehi)

 

Tahun pada naskah di Indonesia ada 4 macam:

1)     Tahun Hijriah (Anno Hijriahe= A.H) – peredaran bulan—dimulai pada Hijrah Nabi Muhammad ke Madinah 16 Juli 622 Masehi – naskah Melayu, jawa, dll.

2)     Tahun Caka= saka © — peredaran matahari—dimulai sejak kelahiran raja Saka, raja di negeri Dekan, India Selatan yang bernama

 

 

Perhitungan Tahun Hijriah ke Masehi atau sebaliknya — sebaiknya — setiap 32 tahun matahari = 33 tahun bulan.

Rumus: tahun masehi: 32/33 (H+622)

Tahun Hijriah: 33/32 (M-622)

Tahun berapa suatu naskah ditulis untuk mengetahui:

  • kebudayaan masyarakat pada waktu itu
  • perkembangan pemikiran
  • tingkat kemajuan
  • susunan masyarakat-pemerintahanya
  • dapat dibandingkan dengan masyarakat lain yang sezaman

 

 

Penanggalan Naskah

 

Sengkalan (Chronogram) yaitu menggambarkan angka tahun dengan lambang, dapat berlambangkan kata, abjad dan gambar.

 

Pemakaian sengkalan: naskah, prasasti, istana.

 

Di Jawa, sengkalan pada umumnya dinyatakan dalam bentuk: kata, gambar, bangunan. Di Melayu, Chronogram pada umumnya dinyatakan dalam bentuk abjad. Sengkalan yang berbentuk gambar disebut memet. Lombo ialah sengakalan yang berbentuk kata.

 

Ada dua macam sengkalan berdasarkan tahun yang dipakai:

  • Candra sengkalan (tahun-bulan)
  • Surya sengkalan (tahun-matahari)

 

Susunan sengkalan: tahun Hijriah, Jawa, Masehi, Saka pada saat ini terdiri atas 4 angka.

 

Angka-angka itu diwakili dengan satu kata (yang sudah disepakati nilainya).

Satu sengkala terdiri atas 4 kata yang disusun dengan amat indah dan diusahakan dengan peristiwa yang terjadi.

Sengkalan itu harus dibaca dari belakang.

Contoh:

  • Pagelaran Kraton Yogyakarta ditandai Candra Sengkalan Panca (5) gana (6) salira (8) tunggal (1) – 1865 A.J

Surya sengkala: catur (4) trisula (3) kembang (9) lata (1) – 1934 M

 

Candra Sengkala ad 2 macam: C. Lamba (apa adanya dalam bentuk kata-kata); C. Memet (dalam bentuk hiasan, dalam bentuk binatang, tumbuh-tumbuhan, huruf atau gambar yang lain – rumit, perlu pemikiran)

 

Penghargaan atau nilai kata

(1)  Semua kata yang keadaannya memang hanya satu; surya, candra, sasi, sasa dara (bulan), janma (manusia), nabi, wudel (pusat perut), bumi, eka, tunggal suta, sunu (anak), bantala, siti (tanah)

(2)  Kata-kata yang keadaannya dua; mata, netra, mripat, kuping, karna, talingan, tangan, hasta, bahu, buja, alis, drastic, siwi, paksa, dwi, loro

(3)  Kata-kata yang mengandung pengertian tiga; sebagian besar pada kata-kata yang berarti api (dahana, bahni, siking, pawaka, pujika, geni, utawaka); panas, benter, murub, kobar; telu, tiga, tri

(4)  Kata-kata yang mengandung pengertian empat; kata-kata yang mengandung air (banyu, tirta, jaladri, segara, samudra, tasik, laut, wedang, karti, air, sumur, lepen; papat, sekawan, catur)

(5)  Semua kata yang mengandung pengertian lima (gangsal, lima, pandhawa, panca; angin, maruta, bayu; buta, raseksa, yaksa, yaksi; cakra, jemparing, lelandhep, warayang)

(6)  Semua kata yang mengandung pengertian enam (sad, enem, nemem); kata-kata yang menunjukkan rasa (pedhes, asem, kecut, pait, gurih, manis); kata yang berarti kayu (anggas, wreksa, tahen, prabatang); kata-kata lain (gana, tawon; obah, oyag, resah; geger, gara-gara)

(7)  Kata-kata yang berarti tujuh (pitu, sapta); kata yang mengandung pengertian gunung (giri, gunung, prawata, cala/kaki gunung); kata yang berarti orang pandai (guru, resi, pandhita, muni, wiku, swara); kata-kata lain (angsa, banyak, gora, jaran, kuda, turangga, aswa)

(8)  Kata-kata yang bernilai delapan (wolu, asta); beberapa jenis reptil (salira/ biawak, basu/tokek, tanu/bunglon, murti/cicak); kata-kata lain (naga/ular besar, bujangga/ ular jantan besar, panagan/ tempat naga, gajah/liman, dwipangga, hesti, manggala, samadya, dirada, dipara/gajah, kunjara, kandang gajah

(9)  Kata-kata yang bernilai Sembilan (nawa, sanga); kata-kata yang berarti lubang (trustha/lubang bedhil, gapura, wiwara, dwara/pintu, guwa, lèng, rong, song, gatra, wilasita/lubang, tempat tinggal binatang, babahan/lubang untuk masuk pencuri); kata-kata lain (rudra/nama batara guru, ludra.marah, hawa sesanga/Sembilan lubang pada badan, muka, rahi, dewa, jawata, manjing, arum, ganda, kusuma/bunga

(0)  Kata-kata yang bernilai 0 atau das; kata yang berarti hilang/tidak ada (sirna, ilang, sonya, suwung, nis, das, edas, brasta, swuh, sat, nir, surut, pejah, mati); kata-kata yang berarti luas, langit (awing-awang, gegana, tawang, ngawiyat); kata-kata yang menunjuk arti melesat (kondhang, kombul/terkena, muluk, mesat/gerakan maju pesat, oncat, swarga

 

Contoh candra sengkala:

(1)  Dalam Serat Kancil Amongraja  tahun penyalinan dinyatakan dengan Rasa sirna teteking pati (1806 A.J/ 1897 A.D)

(2)  Dalam Serat Menak Laré terbaca tahun panulisan berbunyi Tanpa tinggal ngesti jumbuh (1820 A.J/ 1915 A.D)

(3)  Berdirinya Masjid Agung Yogyakarta terdapat candra sengkala di tembok masjid yang berbunyi Gapura trus Winayang janma (1699 A.J/1773 A.D)

 

  • Tahun Hijriah 1 Muharram 1 A.H =  16 Juli 622 A.D (peredaran bulan). 1 tahun = 354 hari, 8 jam, 48 menit, 36 detik
  • Perhitungan Tahun Hijriah ke Masehi atau sebaliknya — setiap 32 tahun matahari = 33 tahun bulan
  • Rumus: tahun masehi : 32/33 H+622

Tahun Hijriah : 33/32 (M-622)

 

1995M — Th hijriah (?) = 33/32 (1995-622) = 33/32 x 1373= 1415

1416 A.H — Th Masehi (?) = 32/33 x 1416+622 = 1372+622 = 1994

 

  • Th Caka: 14 Maret 78 A.D lahirnya Raja Caliwahana
  • Th jawa Islam mulai 1555 C (A.J) = 1633 A.D=1043 A.H

 

Sejak zaman dahulu bangsa Arab mempunyai suatu system pemakaian huruf Hijaiyah untuk melambangkan suatu angka tertentu.

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

20

 

 

 

Dalam buku Tajussalatin karya Bukhari Al Jauhari terdapat kalimat sebagai berikut.

“barang siapa yang dapat mengira-ngirai segala aksara sepata     itu dengan bilangan abjad, maka orang itu mengetahuilah pada masa mana fakir mengarangkan kitab ini”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KODIKOLOGI

 

Kodikologi adalah bagian ilmu filologi yang memepelajari naskah.

kodikologi

Filologi terbagi menjadi dua, yakni:

Tekstologi (mempelajari teksnya)

 

Kodikologi à codex dan logos

Codex : naskah(manuscript) handscript (Belanda)

Naskah = wujud fisik/ realisasi dari teks

Nakah itu bisa dipegang. Teks adalah sesuatu yang dibaca/ isi.

 

Filologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan suatu bangsa berdasarkan tulisan dalam naskah.

Skriptorium adalah tempat penyalinan. Di Indonesia namanya “padepokan”. Salinan tersebut membuat teks baru.

 

“Siti Nurbaya” bisa dipelajari dalam filologi.

Misalnya : variasi naskah siti nurbaya ditulis oleh beberapa orang yang berbeda karena storage/ latar belakangnya berbeda-beda.

Contohnya : dalam cetakan I, Siti Nurbaya memakai pita hitam. Sedangkan dalam cetakan 14, Siti Nurbaya memakai pita coklat.

Analisisnya : mungkin penerbit ingin meraih keuntungan dengan jalan menggambarkan tokoh sesuai dengan trend masa itu.

 

Tradisi Penyalinan

  1. Terbuka : ada pengaruh yang mungkin lebih kuat dan pikiran sendiri.
  2. Tertutup : tidak ada pengaruh dari luar, kecuali buku. Misalnya di Eropa abad pertengahan orang menyalin di tempat terisolir.
  • Di Jawa abad ke 14 ada padepokan di lereng merapi dan merbabu untuk menyalin suatu naskah.
  • Hasil salinan (tradi penyalinan tertutup) adalah hasil salinan setia (tidak mengubah sedikit pun) à kalau ada kekeliruan berarti orangnya kurang mengerti bahasa pada naskah itu.

 

Naskah Syair Kaliwungu (ML 198 F)

1 naskah ada beberapa teks, contoh:

–          Hikayat Maharaja Ali (hal 1-33) Arab Melayu. à seorang raja zaman nabi Isa, yang menjadi tengkorak dan bisa berbicara setelah memohon kepada nabi Isa.

–          Hikayat Darma Tasia (hal 33-42) Arab Melayu.

–          Hikayat Abu Sama` (hal 43-67) latin à Abu Sama dapat berbicara sebelum lahir.

–          Syair Kumkuma (hal 68-71) latin .

–          Hikayat Jentayu (hal 71-85) latin

–          Syair Perang Kaliwungu (hal 86-174) latin.

 

  • Satu teks dapat ditulis dalam 30 naskah, misalnya: Hikayat Indrapurna.
  • Satu teks yang terdiri atas satu naskah dan tertulis dalam satu halaman. Sebagai contoh naskah yang berupa surat.
  • Khasanah kebudayaan masa lampau bangsa Indonesia yang sampai kepada kita sebagai warisan kebudayaan para leluhur antara lain terdapat di dalam berbagai cerita yang turun temurun secara lisan dari mulut ke mulut yang kini sebagian telah ada dalam bentuk tulisan dan ada yang dalam bentuk lisan. Warisan kebudayaan masa lampau yang sampai kepada kita yang tertulis ada yang dalam bentuk tulisan tangan (naskah) dan ada dalam bentuk cetakan.
  • Handschrift dalam catalog disingkat dengan HS (tunggal), HSS (jamak)
  • Manuschrift dalam catalog disingkat MS (tunggal), MSS (jamak)
  • Codex à ruas batang pohon yang ada kaitannya dengan pemanfaatan kayu sebagai alat tulis. Dalam perkembangannya kata codex dipakai untuk karya masa lampau yang ditulis dalam bentuk naskah.
  • Jadi kodikologi adalah seluk beluk semua aspek naskah antara lain: bahan, aksara, umur, tempat tulisan, dan perkiraan penulis naskah.
  • Wilayah kerja kodikologi adalah sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, penelitian tempat penyalinan naskah, umur naskah, masalah penyusunan catalog, perdagangan naskah, dan penggunaan naskah.
  • Penyalinan/ penuturan disebut transmisi.
  • Penyalin yang mempunyai kreatifitas (mungkin menambah/ mengurangi) disebut pengarang kedua dalam ilmu filologi.
  • Umur naskah dapat dilihat dari kertasnya, yaitu tanda airnya, interneevidensi (tanda-tanda yang ada di dalam teks) dan exterevedensi.

 

Penyusunan Katalog Zaman Dahulu

  • Hanya berupa data
  • Hanya berisi nomor urut dan judul
  • Terkadang ada nama penyumbang dan nomor urut
  • Terkadang ada nama penyumbang, nomor halaman, baris, jumlah kata, bahasa huruf.
  • Synopsis

 

 

SITUASI PERNASKAHAN DI INDONESIA

 

  1. A.   Sumber Naskah

Daerah yang merupakan sumber naskah adalah:

  1. Semua kawasan di Indonesia yang memiliki huruf dan bahasa daerah untuk menuliskan hasil budayanya,
  2. Ada daerah-daerah yang menuliskan hasil budaya masa lampau wilayahnya dengan memanfaatkan huruf Arab yang sudah diadaptasi dengan memanfaatkan bahasa daerahnya.
  • Sumatera

Diantaranya wilayah yang merupakan sumber naskah adalah Aceh, Batak, Minangkabau, Kerinci, Riau, Siak, Palembang, rejang di Bengkulu, Pasemah, dan Lampung. à naskah yang berasal dari daerah Aceh, ada naskah yang berbahasa Aceh dan ada pula naskah yang berbahasa Melayu. Huruf yang dimanfaatkan adalah huruf Arab.

 

  • Jawa

Naskah-naskah terdapat di daerah Banten, Jakarta, Pasundan dan Cirebon, Yogyakarta, Surakarta sepanjang Pantai Utara Jawa dari Brebes sampai Gresik, Madura, di daerah pegunungan baik di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

 

  • Bali

Daerah naskah terdapat di seluruh wilayah ini.

 

  • Kalimantan

Daerah naskah dapat dijumpai di Sambas, Pontianak, Banjarmasin, dan Kutai.

 

  • Sulawesi

Naskah-naskah ditemukan di daerah Bugis, Makassar, Buton dari Kendari.

 

  • Nusa Tenggara Barat

Naskah-naskah ditemukan di Lombok dan Sumbawa Besar (Sumbawa, Dompo, dan Bima)

 

  • Wilayah Kepulauan Indonesia Timur

Naskah-naskah ditemukan di Ternate dan Maluku.

 

  1. B.   Huruf Arab

Huruf Arab yang dimanfaatkan di kawasan Indonesia dan Malaysia dikenal dengan sebutan huruf Arab-Melayu (huruf Jawi). Jawi  bagi huruf Arab yang dimanfaatkan di kawasan Indonesia dapat dikaitkan dengan panggilan Jawi yang dikenakan oleh orang Arab terutama di Mekkah terhadap orang Melayu dan Indonesia hingga masa kini.

Kata jawi  ini adalah kata sifat yang membawa arti “orang Jawa” atau berasala dari “tanah Jawa”. Oleh karena itu, orang Jawa menggunakan huruf Arab itu kemudian menyebutnya dengan huruf “Jawi

 

  1. C.   Huruf Arab, Bahasa lain
  • Biasanya huruf Arab yang dipakai untuk bahasa daerah tertentu diberi tanda baca atau diakritis.
  • Huruf Arab yang dipakai untuk menulis bahasa Bima disebut huruf Arab Bima. Ada pula huruf Arab Aceh, Bugis, dsb.
  • Naskah Jawa yang ditulis dengan huruf Arab disebut naskah Pegon. Hurufnya dinamakan huruf Arab Pegon.

Naskha Jawa/ bahasa Jawa :

  • pegon (diberi tanda baca/ harokat)
  • Gundhil/ gundhul (tidak diberi tanda baca)

 

  1. D.  Huruf Pegon

Huruf Pegon banyak dipakai oleh masyarakat Islam di Jawa, tempat orang mempelajari teks-teks Melayu dan Arab. Pada umumnya, sastra yang beraroma Islam ditulis dengan huruf Pegon/ gundhil.

 

Contohnya:

Syekh Baginda Mardam : naskah Jawa

Menggunakan huruf Pegon dan Jawa

 

  1. E.   Macam-Macam Huruf di Indonesia

Nakah kono koleksi Museum Nasional (jusuf, 1983) terdapat suatu bagian yang berjudul “macam-macam huruf di Indonesia” yang meliputi huruf-huruf latin, Jawa, Bali, Rencong, Batak Anjaba, Batak Mandailing, Batak Toba, Batak Dairi, Batak Simalungu, Batak Karo, Bugis dan Arab.

 

  1. F.   Macam-Macam Huruf Daerah

–          Kerinci à huruf Rencong (Rencong Kerinci, Rencong Rejang/ Melayu Tengah/ ka-ga-nga, huruf Batak)

–          Huruf Lampung

–          Huruf Sunda

–          Huruf Jawa à Jawa Kuno, Jawa Buda, Jawa Baru, Jawa Bali.

Huruf Jawa Baru à Jawa Barat, Jawa Tengah: Keraton Surakarta, Keraton Yogyakarta, Pasar Kliwon, Jawa Timur, Jawa Palembang.

–          Huruf Bali

–          Huruf Sasak

–          Huruf Bima

–          Huruf Ende

–          Huruf Madura

–          Huruf Bugis (dipakai untuk menulis bahasa Sumbawa dan Bima pada masa lampau)

–          Huruf Makassar

 

  1. G.   Huruf Sunda

Dari segi huruf ada empat macam huruf untuk menulis naskah Sunda:

  1. Huruf Sunda Kuno, abad ke-16
  2. Huruf Jawa-Sunda, abad ke-17, pertengahan abad 19
  3. Huruf Arab, sejak pertengahan abad ke-19
  4. Huruf latin, akhir abad ke-19

 

  1. H.  Tempat Penyimpanan Naskah-Naskah Jawa

–          Museum

–          Perpustakaan

–          Tempat pribadi

–          Keraton

 

Van Der Molen telah membuat daftar semua catalog yang ada mengenai koleksi naskah Jawa ada 21 negara yang mengoleksi naskah Jawa, yaitu: Amerika, Australia, Austria, Belanda, Belgia, Ceko, Denmark, Indonesia, Inggris, Irlandia, India, Jerman, Malaysia, Norwegia, Perancis, Rusia, Selandia Baru, Slovakia, Swedia, Swiss, dan Thailand.

 

  1. I.     Naskah Jawa di Indonesia

Di simpan di:

  • Kasulatanan Yogyakarta
  • Pura Pakualaman Yogyakarta
  • Keraton Surakarta
  • Museum-Museum di Yogyakarta dan Surakarta
  • Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta
  • Balai Kajian Sejarah dan Nilai-nilai tradisional Yogyakarta
  • Griya Dewantara Yogyakarta
  • Fakultas Sastra UI, UGM, Universitas Negeri Banyuwangi

 

  1. J.     Naskah Batak

Tersimpan di berbagai negara berikut:

Amerika, Australia, Austria, Belanda, Belgia, Denmark, Indonesia, Inggris, Irlandia, India, Jerman, Perancis, Rusia, dan Spanyol (Voorhoeve, 1977)

 

  1. K.  Naskah Sunda

–          Tersimpan di berbagai negara berikut :

Belanda, Inggris, Indonesia, dan Swedia (Ekadjati, 1988)

–          Di Indonesia, tersimpan di perpustakaan Nasional, museum-museum Bandung, Sumedang dan Kuningan.

–          Menurut Ekadjati , yang dimaksud naskah Sunda adalah naskah yang dibuat di daerah Sunda yang terlepas dengan huruf dan bahasa yang dimanfaatkannya.

–          Sunda mempunyai 4 bahasa dan 4 huruf.

–          Bahasa Sunda unik, karena:

  1. Karena tidak memenuhi persyaratan sumber naskah
  2. Karena mempunyai 4 bahasa dan 4 huruf

 

  1. L.   Naskah Bali

–          Tersimpan di nagara : Inggris, Amerika, Belanda, dan Indonesia

–          Di Indonesia tersimpan di Gedung Kirtya (Singaraja) dan Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali di Denpasar.

 

Skirptorium Naskah Melayu dan Jawa

Scriptorium (t); scriptoria (j) berasal dari kata kerja Scribere = menulis

Pada mulanya: sebuah ruangan di biara-biara Eropa (pd abad pertengahan) tempat penulisan atau penyalinan naskah. Letaknya di dekat perpustakaan. Di biara-biara yang miskin, scriptorium bertempat di Klausura (sebuah ruangan khusus dalam biara yang terisolir dari dunia luar).

*klausura itu negara yang miskin, merupakan tempat penulisan naskah.

 

Eropa: penyalinan naskah merupakan sumber penghasilan penting bagi biara. Untuk memenuhi permintaan naskah (dari para bangsawan dan rohaniwan) biara-biara mengorganisasikan suatu karya kolektif secara professional (kalografi yang terbaik, dekorasi yang spesialis, tukang jilid yang teliti).

 

Di Indonesia : penyalinan naskha dilakukan di tempat khusus seperti padepokan, istana raja, kel. Bangsawan, pesantren, lembaga milik pemerintah (zaman Belanda).

Pengayomnya : raja, bangsawan, rohaniawan, ulama.

 

 

Tempat Penyalinan Naskah Jawa

 

*Merapi dan Merbabu (huruf Jawa Buda/ Gunung)

Di G. Merapi alasnya lontar, nipah

–          Punggung timur laut : Sidapaksa; “Putu Sangaskara”

–          Kaki timur laut, Kumeted: “Wiwaha Kawi Surakarta”

 

Di G. Merbabu (Damalung, Pamrihan) – alas tulis lontar

–          Kaki timur laut : “Kakawin Arjinawijaya”

–          Puncak barat daya, Pamardin : “Kunjarakarna”

–          Kaki barat daya, Gegerwindu : “Kunjarakarna”

–          Kaki barat, Rabut Pekik : “Kakawin Arjunawiwaha”

–          Kaki barat laut, Wanakasa : “Kakawin Arjunawiwaha”

 

Isi teks : pawukon, kakawim, kidung-kidung, mantra, kartibasa, sesaji, obat-obatan trasdisional.

 

  • Scriptorium Kraton Yogyakarta (Masa HB V) — penyalin spesialis: penyalin bekerja setiap hari dari dini hari sampai larut malam; sangat produktif pada bula Ruwah, Pasa, Sura.
  • Scriptorium Pakualaman (PA I-VII) – alas kertas.
  • S. Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Jakarta) didirikan pada 24 April 1778. Tokoh-tokoh: Cohen Stuart (1812-1871) mengawasi penyalinan naskah yang dianggap sulit dibaca dan rusak; menekankan akurasi literal dalam proses penyalinan.

 

Tempat Penyalinan Naskah Melayu

  • Scriptorium Algwemeene Secretarie (Biro Gubernur Jendral Hindia Belanda), didirikan tahun 1819 di Jakarta. Para penyalinnya adalah Muhammad Ching Saidullah; Muhammad Sulaiman; Muhammad Hasan bin Haji Abdul Aziz.
  • S. Pecenongan (Jakarta) – milik keluarga Fadli. Ciri-cirinya: menulis nama di halaman depan naskah, mengiklankan hikayat dan syair yang telah disewakan, pencerita muncul di dalam cerita — “Maka bertangis-tangisan hingga pengarangnya jua turut menangis”, pencerita menyapa audiens secara langsung — “Hai sekalian Saudaraku yang ada duduk, tolonglah berkata, “Amin”, tokoh cerita menyapa secara langsung pencerita.
  • S. Naskah-naskah Riau : Tanjung Pinang (P. Bintan), P. Penyengat, Hulu Riau, Kampung Bhulang adalah pusat kegiatan penulisan dan penyalinan naskah. Naskah-naskah Riau dapat digolongkan 10 jenis teks: ajaran Islam, epos, sejarah, nasihat, pelipur lara, undang-undang, silsilah, obat-obatan, doa, dan pengetahuan bahasa. Nama-nama penyalin Riau : Encik Husein bin Ismail, Encik Ismail bin Datuk Karkun, Encik Said, Haji Ibrahim. Nama pengarang: Engku Haji Ibrahim, Raja Ali Haji, Raja Haji Ahmad, Salaman binti Ambar, Raja Haji Dawud. Kolektornya Rafless (SCH à Scumanha), Von de Wall (Vd.W), Snouck Hurgronje, W à Wilkinson, Oph à Van Ophoysen, KL à Klinkert, PGà Pgeaud, CSà Cohen Stuart,

Cirri-ciri naskah riau:

  1. Tulisannya kurang rapi.
  2. Format naskahnya (ukuran kwarto) diberi garis-garis.
  3. Cap kertas naskahnya pro patria àhorn 1882, superfied, dan gambar gajah. Gambar gajah biasanya ada aksara cina-nya.
  4. Naskah-naskah tersebut memiliki kolofon yang komplit seperti angka tahun, nama kampung, ilustrasi, dan iluminasi.
  5. Naskah riau memiliki pembagian bab.
  6. Ada rubrikasi (pewarnaan dengan tinta merah pada kata atau kalimat yang dianggap penting) à dalam perkembangannya tidak harus selalu merah, yang penting beda warna.
  7. Kolofon naskah riau. Contoh: syair raja Banjarmasinà angka tahunnya menggunakan angka tahun masehi. Yang menyurat syair ini adalah Raden Al Habib Banjarmasin pada hari bulan Februari 1871. Kemudian diturunkan pula oleh Amrullah juru tulis di kantor Algemeene Secretarie pada hari bulan Februari 1872.
  8. Cerita Pak Belalang. à tersurat di dalam Riau di Pulau Penyengat pada dua hari bulan Robiul Awal hari kamis pukul 7 pagi Sanat 1287 berbetulan dengan dua bulan juni 1870.
  9. Undang-undangMelayu dari ….  à bermula bahwa inilah surat risalah yang pendek pada menyatakan perkataan undang-undang daripada seripaduka sultan Mahmud Syah yaitu sang purba yang turun dari …

Kolofonnya: tamat kepada dua likur hari bulan Zulkaidah pada malam sabtu waktu pukul jam dua belas tarekh tahun1253. Adapun yang empunya surat undang-undang ini tuan Walbeen Riau di Tanjung Pinang adanya. Wakatabihi Encik Said peranakan Bugis di dalam negeri Riau dari Al Khafiz Indrasakti. Intiha walkalam.

Naskah Riau dikelompokkan menjadi 10 kelompok:

  1. Kelompok ajaran Islam, misalnya sabilal muhtadin, syair siti sianah, `at tariqhat al muhammadiyah
  2. Kelompok yang berisi sejarah, misalnya Hikayat Negeri Johor
  3. Kelompok yang berisi pelipur lara,  misalnya Kisah Seorang Tukang Kayu yang Bijaksana, Syair Riwayat Perkawinan Raja Muhammad Yusuf dengan Raja Zalekha di Pulau Penyengat.
  4. Kelompok yang berisi silsilah, misalnya Silsilah Keturunan Raja-Raja Riau, Silsilah Laksamana Encik Muhammad Yusuf
  5. Kelompok yang berisi obat-obatan, misalnya Asal Ilmu Tabib, Aneka Masalah Obat-obatan, Pasal Penawar Racun dan Obat.
  6. Kelompok yang berisi doa, misalnya Doa dan Ilmu Firasat
  7. Kelompok yang berisi pengetahuan Bahasa, misalnya Bustahnul Katibin, Syair Kutipan Mutiara
  8. Kelompok yang berisi ramalan, misalnya Pasal Perempuan Memulai Suatu Pekerjaan
  9. Kelompok yang berisi nasehat, misalnya Syair Nasehat Memelihara Diri, Ikatan Setia, Syair Tuntunan Kelakuan.
  10. Kelompok yang berisi aneka ragam, misalnya Catatan Harian, Surat Keputusan, Izin Kerja, Surat Pemberitahuan, dsb.

 

  • Rekto à halaman depan naskah setelah sampul.
  • Verso à halaman belakang rekto.
  • Format à ukuran naskah yang ditulisi.
  • Iluminasi à gambar hiasan yang terdapat di sampul naskah.
  • Ilustrasi à penjelasan di dalam teks.
  • Kuras à kertas yang dilipat dan dipotong lalu disusun dan ditumpuk. Setiap susunan terdiri atas 6, 8, lembar dst. Setiap tumpukan itu dijilid.

 

Kolektor Naskah

  • Raffles – pegawai pemerintah Inggris — kolektor naskah Jawa dan Melayu yang tersimpan di Royal Asiatic Society, London.
  • Karl Scoemann — jumlah koleksinya 272 (Bali: 76; Melayu:47; Bugis: 35; Kawi: 25; Jawa:25; Batak: 5; Lampung: 5; Makassar: 3; Tamil, Arab, India) — disimpan di Kniglicche Hofbibliothek, Berlin.

Naskah-naskah Indonesia sampai ke Luar Negeri

–          Lewat penjarahan tentara Belanda yang menyerbu istana-istana raja/ tempat-tempat lain.

–          Inggris menduduki istana Yogyakarta (1812) — naskah-naskah Jawa diserahkan.

–          Ketika Belanda menyerbu para pejuang, naskah-naskah ditinggalkan di daerah Aceh dan ada yang tersimpan di Jakarta; Damste dan Van de Velde menyelamatkan sebagian naskah Aceh.

–          Snouck Hurgronje menyuruh menyalin beberapa naskah Aceh.

–          Lewat jalur perdagangan

–          Sebagai bahan penelitian

–          Sebagai hadiah (15 naskah Melayu koleksi Raffles di RAS merupakan hadiah dari Kyai Suradimenggolo, Bupati Demak di Bogor)

–          3 naskah yang tersimpan di univ Cambridge sejak th 1972, dulunya merupakan koleksi Prof. Thomas Erpenius (ahli bhs Arab). Thomas Erpenius merupakan kolektor naskah yang sangat besar yang tersimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Leiden, Cambridge. Di antara naskah koleksi Epenius ada 6 naskah Melayu uang ada  tanda tangannya Peter Willem dan Elbink (pedagang yang pernah tinggal di Aceh th 1604)

–          Di beli oleh berbagai perpustakaan dalam pelelangan buku, misalnya th 1848 Perpustakan Universitas Leiden membeli sebuah naskah dari pelelangan Nedermeyer Bosch; 1885 KITLV (Leiden) membeli naskah dari pelelangan di Martinus Nijhoff; th 1900 Univ Bodleian Oxford membeli naskah Jawa “Cerita Wayang” dari pelelangan Hodgson.

 

Pengguna naskah

  1. Penyimpan dan penata, dilakukan secara sistematis untuk membentuk sebuah koleksi naskah. Perawatan: untuk melestarikan naskah menjaga dari kerusakan. Salah satu dari fungsi penyalinan naskah adalah menjaga kelestarian naskah.
  2. Peneliti (para ahli filologi): merumuskan dan menangani masalah-masalah berkenaan dengan teknologi pembuatan dan perawatan naskah, waktu penulisan naskah, asal-usul naskah, hubungan antarnaskah, hubungan antar teks, penyusun teks, sejarah teks, struktur teks, isi teks, fungsi naskah dan teks, masalah kebahasaan, masalah perteksan. Hasil kajian para ahli filologi: menajdi sumbangan bagi pengkajian ilmu-ilmu lain, di antaranya sejarahy, sastra, kebudayaan, kesenian.
  3. Pembuat:

–          Pembuat naskah sekaligus pengarang/ pujangga: menulis naskah adalah suatu pemenuhan kebutuhan batin untuk menyatakan pikiran-pikirannya, untuk mempraktekkan kiat-kiat setetikanya, untuk menyatakan sikap hidup dan tanggapan dunianya.

–          Pembuat naskah hanya melakukan penyalinan, baik atas perintah, keinginan sendiri atau pesanan (pada waktu ini golongan ini yang paling banyak)

  1. Pencari petunjuk: memanfaatkan naskah — golongan ini melihat naskah sebagai sumber petunjuk dari nenek moyang, misalnya: para pengguna primbon (meskipun teks-teks itu sudah dicetak dan disebarluaskan secara umum — golongan ini merasa dapat terpenuhi kebutuhannya)
  2. Perawat pusaka: golongan ini melihat naskah sebagai benda keramat yang disucikan. Anggapan bahwa naskah sebagai benda keramat: proses pewarisan, naskah ini dinilai bersifat suci.

Kertas sebagai alas naskah di Indonesia

–          Polos putih; biru muda; bergaris (horizontal, vertical)

–          Ukuran kertas: octavo (8°), kuarto (4°), folio (2°)

–          Kertas merupakan ciptaan Tsai Lun (menteri Cina pada zaman Kaisar Wu Di, Dinasti Han, th 105). Sekitar 600 th hanya dikenal di Cina. Th 750 dikenal oleh masyarakat Arab (tawanan perang Cina) menceritakan rahasia pembuatan kertas.

 

Kertas

Sebelum di temukan kertas di Cina, korespondensi dan administrasi memanfaatkan sutera dan bamboo. Kertas di temukan di Cina pada tahun 105 M Wyu Di Korea dan Jepang membuat kertas pada tahun 610. Th 750 perang Cina dengan Arab di Turkestan — tawanan perang Cina membuka rahasian pembuatan kertas — pembuatan kertas berkembang di negara-negara Arab (Baghdad, Damaskus, Tripoli)

 

Th 1100 terdapat pabrik kertas di Fez

Abad ke 12 pembuatan kertas di Spanyol

Th 1276 pembuatan kertas di Italia (Febriano)

Th 1338 pembuatan kertas di Perancis

Th 1398 pembuatan kertas di Nurenberg, Jerman

Th 1438 pembuatan kertas di Gennep, Belanda

Abad XVII Amsterdan sebagai penghasil kertas untuk Jerman dan Perancis. Sebelumnya Belanda sebagai pengimpor kertas dari Jerman, Perancis, dan Swiss.

 

Kertas di Indonesia ada tiga macam:

  1. dari Belanda
  2. dari Inggris (lewat Malaysia)
  3. dari Italia

 

abad XIX pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan khusus sebagai pengekspor kertas ke Indonesia yang sangat menopang keberlanjutan pabrik-pabrik kertas di Belanda. Th 1862 ada peraturan yang mewajibkan lembaga-lembaga pemerintah memakai kertas Pro Patria buatan Belanda. Pemerintah Belanda juga menggunakan kertas khusus untuk keperluan surat menyurat kepada orang-orang penting di Indonesia dengan menggunakan kertas “Zurat” (dari Surate, India)

 

cap kertas = tanda kertas (watermark): suatu tanda dagang (trade mark) untuk menunjukkan kualitas, ukuran, pembuat kertas.

 

Cap kertas yang tertua adalah Fabriano buatan Italia (1282)

Macam-macam cap kertas:

(1)  pro patria, Foolschap (Belanda) — 1704-1810

(2)  lambang Amsterdan — 1635-1796

(3)  penunggang kuda kerajaan Belanda — 1762-1796

(4)  gambar dengan tulisan Made in Austria

(5)  gambar monogram kerajaan Inggris — 1687-1775

(6)  strasbury Lily (abad ke 17)

(7)  gambar 7 propinsi, Singa, Pedang — 1656-1800

(8)  sarang lebah Tuan Hong — 1683-1807

 

kolofon dan Penanggalan

kolofon (Yunani: kolophon): bagian naskah yang member informasi bermacam-macam (nama penyalin/penulis, tempat penyalinan/penulisa, tanggal, penyebutan nama orang yang meminta menulis/ menyalin, anjuran agar pembaca berhati-hati memperlakukan naskah, ada pula yang mencantumkan sewa dan harga naskah)

 

letak kolofon: pada awal atau akhir teks. Kadang-kadang ditulis dalam dua atau tiga kalimat saja, kadang-kadang berupa syair yang berbait-bait panjangnya

 

contoh kolofon:

1)     Tamat Hikayat Indraputra pada Hijrat seribu seratus sepuluh esa pada sembilan likur hari bulan Rajab pada hari Arbaa dan pada waktu Lohor (RujiatiMulyadi, 1983:206) à selesai menulis hikayat indraputra pada jam 12 hari rabu tanggal 29 bulan rajab tahun 1111.

2)     Demikian Adat Segala Raja-Raja Melayu. Tamat kepada dua likur hari bulan syakban hari isnin jam pukul sepuluh dan yang punya surat ini Tuan Raja Pakir, Sanat 1232 (Panuti Sudjiman, 1983: 95).

 

Penanggalan yang terdapat di dalam dunia naskah di Indonesia: pada kolofon, umumnya menggunakan tahun Hijriah (pada naskah muda kadang-kadang dicantumkan pula tahun Masehi)

 

Tahun pada naskah di Indonesia ada 4 macam:

1)     Tahun Hijriah (Anno Hijriahe= A.H) – peredaran bulan—dimulai pada Hijrah Nabi Muhammad ke Madinah 16 Juli 622 Masehi – naskah Melayu, jawa, dll.

2)     Tahun Caka= saka © — peredaran matahari—dimulai sejak kelahiran raja Saka, raja di negeri Dekan, India Selatan yang bernama

 

 

Perhitungan Tahun Hijriah ke Masehi atau sebaliknya — sebaiknya — setiap 32 tahun matahari = 33 tahun bulan.

Rumus: tahun masehi: 32/33 (H+622)

Tahun Hijriah: 33/32 (M-622)

Tahun berapa suatu naskah ditulis untuk mengetahui:

  • kebudayaan masyarakat pada waktu itu
  • perkembangan pemikiran
  • tingkat kemajuan
  • susunan masyarakat-pemerintahanya
  • dapat dibandingkan dengan masyarakat lain yang sezaman

 

 

Penanggalan Naskah

 

Sengkalan (Chronogram) yaitu menggambarkan angka tahun dengan lambang, dapat berlambangkan kata, abjad dan gambar.

 

Pemakaian sengkalan: naskah, prasasti, istana.

 

Di Jawa, sengkalan pada umumnya dinyatakan dalam bentuk: kata, gambar, bangunan. Di Melayu, Chronogram pada umumnya dinyatakan dalam bentuk abjad. Sengkalan yang berbentuk gambar disebut memet. Lombo ialah sengakalan yang berbentuk kata.

 

Ada dua macam sengkalan berdasarkan tahun yang dipakai:

  • Candra sengkalan (tahun-bulan)
  • Surya sengkalan (tahun-matahari)

 

Susunan sengkalan: tahun Hijriah, Jawa, Masehi, Saka pada saat ini terdiri atas 4 angka.

 

Angka-angka itu diwakili dengan satu kata (yang sudah disepakati nilainya).

Satu sengkala terdiri atas 4 kata yang disusun dengan amat indah dan diusahakan dengan peristiwa yang terjadi.

Sengkalan itu harus dibaca dari belakang.

Contoh:

  • Pagelaran Kraton Yogyakarta ditandai Candra Sengkalan Panca (5) gana (6) salira (8) tunggal (1) – 1865 A.J

Surya sengkala: catur (4) trisula (3) kembang (9) lata (1) – 1934 M

 

Candra Sengkala ad 2 macam: C. Lamba (apa adanya dalam bentuk kata-kata); C. Memet (dalam bentuk hiasan, dalam bentuk binatang, tumbuh-tumbuhan, huruf atau gambar yang lain – rumit, perlu pemikiran)

 

Penghargaan atau nilai kata

(1)  Semua kata yang keadaannya memang hanya satu; surya, candra, sasi, sasa dara (bulan), janma (manusia), nabi, wudel (pusat perut), bumi, eka, tunggal suta, sunu (anak), bantala, siti (tanah)

(2)  Kata-kata yang keadaannya dua; mata, netra, mripat, kuping, karna, talingan, tangan, hasta, bahu, buja, alis, drastic, siwi, paksa, dwi, loro

(3)  Kata-kata yang mengandung pengertian tiga; sebagian besar pada kata-kata yang berarti api (dahana, bahni, siking, pawaka, pujika, geni, utawaka); panas, benter, murub, kobar; telu, tiga, tri

(4)  Kata-kata yang mengandung pengertian empat; kata-kata yang mengandung air (banyu, tirta, jaladri, segara, samudra, tasik, laut, wedang, karti, air, sumur, lepen; papat, sekawan, catur)

(5)  Semua kata yang mengandung pengertian lima (gangsal, lima, pandhawa, panca; angin, maruta, bayu; buta, raseksa, yaksa, yaksi; cakra, jemparing, lelandhep, warayang)

(6)  Semua kata yang mengandung pengertian enam (sad, enem, nemem); kata-kata yang menunjukkan rasa (pedhes, asem, kecut, pait, gurih, manis); kata yang berarti kayu (anggas, wreksa, tahen, prabatang); kata-kata lain (gana, tawon; obah, oyag, resah; geger, gara-gara)

(7)  Kata-kata yang berarti tujuh (pitu, sapta); kata yang mengandung pengertian gunung (giri, gunung, prawata, cala/kaki gunung); kata yang berarti orang pandai (guru, resi, pandhita, muni, wiku, swara); kata-kata lain (angsa, banyak, gora, jaran, kuda, turangga, aswa)

(8)  Kata-kata yang bernilai delapan (wolu, asta); beberapa jenis reptil (salira/ biawak, basu/tokek, tanu/bunglon, murti/cicak); kata-kata lain (naga/ular besar, bujangga/ ular jantan besar, panagan/ tempat naga, gajah/liman, dwipangga, hesti, manggala, samadya, dirada, dipara/gajah, kunjara, kandang gajah

(9)  Kata-kata yang bernilai Sembilan (nawa, sanga); kata-kata yang berarti lubang (trustha/lubang bedhil, gapura, wiwara, dwara/pintu, guwa, lèng, rong, song, gatra, wilasita/lubang, tempat tinggal binatang, babahan/lubang untuk masuk pencuri); kata-kata lain (rudra/nama batara guru, ludra.marah, hawa sesanga/Sembilan lubang pada badan, muka, rahi, dewa, jawata, manjing, arum, ganda, kusuma/bunga

(0)  Kata-kata yang bernilai 0 atau das; kata yang berarti hilang/tidak ada (sirna, ilang, sonya, suwung, nis, das, edas, brasta, swuh, sat, nir, surut, pejah, mati); kata-kata yang berarti luas, langit (awing-awang, gegana, tawang, ngawiyat); kata-kata yang menunjuk arti melesat (kondhang, kombul/terkena, muluk, mesat/gerakan maju pesat, oncat, swarga

 

Contoh candra sengkala:

(1)  Dalam Serat Kancil Amongraja  tahun penyalinan dinyatakan dengan Rasa sirna teteking pati (1806 A.J/ 1897 A.D)

(2)  Dalam Serat Menak Laré terbaca tahun panulisan berbunyi Tanpa tinggal ngesti jumbuh (1820 A.J/ 1915 A.D)

(3)  Berdirinya Masjid Agung Yogyakarta terdapat candra sengkala di tembok masjid yang berbunyi Gapura trus Winayang janma (1699 A.J/1773 A.D)

 

  • Tahun Hijriah 1 Muharram 1 A.H =  16 Juli 622 A.D (peredaran bulan). 1 tahun = 354 hari, 8 jam, 48 menit, 36 detik
  • Perhitungan Tahun Hijriah ke Masehi atau sebaliknya — setiap 32 tahun matahari = 33 tahun bulan
  • Rumus: tahun masehi : 32/33 H+622

Tahun Hijriah : 33/32 (M-622)

 

1995M — Th hijriah (?) = 33/32 (1995-622) = 33/32 x 1373= 1415

1416 A.H — Th Masehi (?) = 32/33 x 1416+622 = 1372+622 = 1994

 

  • Th Caka: 14 Maret 78 A.D lahirnya Raja Caliwahana
  • Th jawa Islam mulai 1555 C (A.J) = 1633 A.D=1043 A.H

 

Sejak zaman dahulu bangsa Arab mempunyai suatu system pemakaian huruf Hijaiyah untuk melambangkan suatu angka tertentu.

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

20

 

 

 

Dalam buku Tajussalatin karya Bukhari Al Jauhari terdapat kalimat sebagai berikut.

“barang siapa yang dapat mengira-ngirai segala aksara sepata     itu dengan bilangan abjad, maka orang itu mengetahuilah pada masa mana fakir mengarangkan kitab ini”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s